Pementasan Egon pada Milad Teater Awal UIN Bandung

Posted on

Dalam memperingati milad teater awal Bandung yang ke-32, pada tanggal  7 Oktober 2019 di gedung Abdjan Sulaiman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan bangga teater awal Bandung mempersembahkan pementasan teater dengan naskah yang berjudul “EGON” karya Saini K.M. yang di sutradarai oleh Reza Julviana atau biasa di panggil Reza Noise.

Pementasan Egon pada Milad Teater Awal UIN BandungNaskah yang menceritakan sebuah peristiwa pada tahun 1967 ini di tulis oleh Saini K.M. ini  melibatkan 10 orang peran pemain. Dimana permasalahan yang tak kunjung usai, membuat penonton menduga-duga akan kasus yang terjadi saat itu. Titik permasalahan dari cerita ini terdapat pada tokoh pemuda yang di perankan oleh Abang Muhammad Maulana, mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab tersebut menjadi pemeran utama pada pementasan Egon ini. Pemuda itu adalah seorang aktivis yang di anggap berbahaya dan gila, ia ditangkap oleh petugas keamanan. Selain itu, pemuda itu pun dipermainkan oleh beberapa tokoh dalam hidupnya dengan sandiwaranya masing-masing, mereka adalah seorang pria muda, ibu, sarjana, dokter, seorang anak, baju hijau, wanita dan baju khaki, tentu saja dengan problematika yang berbeda-beda dan tak kunjung selesai. Hal ini merupakan sindiran terhadap kondisi saat ini, peran yang dimainkan saat pementasan juga memaksa penonton untuk selalu menduga-duga atas apa yang menjadi penyebabnya.

Pementasan Egon pada Milad Teater Awal UIN Bandung

Proses latihan garapan Egon ini memakan waktu kurang lebih 3-4 bulan lamanya, dari awal mula reading, casting, blocking hingga running adegannya. Sutradara Reza Noise mengungkapkan alasannya memilih naskah Egon ini, “Karena naskah ini sangat relevan, ada kesinambungan dengan kondisi indonesia saat ini,” ucapnya. Naskah Egon ini memberikan wawasan yang cukup luas dari pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Secara konsep garap pun tidak banyak mengubah dari keutuhan naskah tersebut, karena naskah Saini K.M. yang satu ini bisa di bilang agak absurd sedikit secara konflik pemikiran, tetapi dibungkus dengan hal hal realis sekali, dimulai dari penggunaan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, tetapi secara ruang yang terjadi pada saat itu, yaitu sekitar tahun 1978. Dan pengadaptasian secara ruang saja yang dilakukan penggarap untuk membuat pertunjukan lebih relevan dengan kondisi sekarang saja.

Lalu apa hubunganya naskah EGON dengan kondisi Indonesia saat ini? Jawabnya justru sangat kontekstual sekali ketika kejadian atau peristiwa politik besar terjadi lagi di Indonesia pada 2019, mulai munculnya kebijakan pemerintahan yang oleh sebagian orang dianggap tidak sejalan dengan rakyat dan akhirnya memicu massa untuk protes dan melakukan aksi demonstrasi. Kini, bagi sebagian orang melihat ketimpangan antara kepentingan penguasa dan kepentingan rakyat saat nampak terlihat di Indonesia, dan permasalahan seperti ini seakan tak kunjung selesai, sama persisnya dengan cerita di naskah EGON karya Saini K.M. (Hamzah)