Dr. Akmaliyah Bicara Peran Perempuan dalam Demokrasi pada Tadarus Kebangsaan

Posted on

Dr. Akmaliyah, M.Ag menjadi pembicara dalam acara bertajuk Tadarus Kebangsaan yang digelar oleh Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia pada Kamis, 7 Mei 2020. Acara dengan tema Hakikat Pemilu Sebagai Instrumen Demokrasi tersebut dilakukan secara teleconference via aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan secara live di Youtube Deep Indonesia Channel dengan Neni Nur Hayati (Direktur Eksekutif DEEP Indonesia) yang menjadi pemantik diskusinya.

Dr Akmaliyah tadarus kebangsaan DEEP Indonesia

DEEP Indonesia mengatakan latar belakang digelarnya acara tersebut karena dalam indeks demokrasi 2019 yang dikeluarkan The Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia masuk pada kategori negara dengan demokrasi cacat. Jauh di bawah Timor Leste dan Malaysia. Penilaian EIU dalam perkembangan demokrasi suatu negara dari proses pemilu dan pluralisme, fungsi pemerintah, partisipasi politik, budaya politik, dan kebebasan sipil. Ternyata persoalan partisipasi politik nilainya tidak menggembirakan ini bertolak belakang dengan tingkat partisipasi publik tertinggi di pemilu 2019 lalu. Hampir 81 persen pemilih datang ke TPS untuk menggunakan haknya. Belum lagi narasi demokrasi yang ada sekarang ini masih terkungkung dan terjadi polarisasi.

Dalam pemaparannya, Dr. Akmaliyah, M.Ag. mengatakan bahwa perempuan mempunyai peran besar dalam pendidikan demokrasi. “Perempuan memiliki peran yang sangat besar dan penting bagi pendidikan demokrasi yang baik dan benar, bukan hanya sebagai praktisi, tapi juga sebagai pengingat ataupun konseptor, di mulai dari rumah sebagai al-madrash al-ula (sekolah pertama dan utama), di sekolah dan dalam cakupan yang lebih luas di tengah masyarakat,” jelasnya.

Dr Akmaliyah tadarus kebangsaan DEEP Indonesia 2020

Selain itu Ketua Pusat Studi Gender dan Anak UIN Bandung tersebut juga menyoroti demokrasi yang berperan mengangkat harkat dan martabat manusia tanpa mengenal ras dan gender. “Jadi perempuan bisa mengekspresikan hak-haknya, baik sebagai subjek ataupun objek dalam demokrasi. Sebagai objek, bisa mengekspresikan haknya untuk memilih, berbondong-bondong ke bilik suara dan mengekspresikan suaranya, atau sebagai subjek demokrasi, yaitu yang berhak mendapatkan suara rakyat. Perempuan dalam demokrasi memiki tugas menyiapkan rakyat yang kritis dan tulus sekaligus menyiapkan penguasa yang beradab mulai dari rumah hingga dalam kehidupan masyarakat luas,” jelas dosen terjemah Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Bandung tersebut.

Pembicara lainnya dalam Tadarus Kebangsaan ini adalah Ahmad Nur Hidayat (Komisioner KPU Kota Bandung) dan Dede Selamet Permana (Komisioner Bawaslu Kota Depok). Acara yang dimoderatori oleh Fauziyah Hanifah (Kohati Cabang Kabupaten Bandung) tersebut dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab hingga selesai.