Mengenal Bahasa Arab Lebih Dalam & Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Posted on
Judul Buku Belajar Bahasa Arab dengan Mudah
Penulis Rafi El-Imad Faynan
Penerbit Penerbit Marja (Bandung)
Cetakan Pertama, Syaban 1429 H/Agustus 2008
Tebal 216 halaman
ISBN 979-9482-92-5

Oleh Mahadi Ihsanuddin Ramadhan (Mahasiswa Prodi BSA Semester 2 Tahun 2020)

Pengajaran Bahasa Arab, khususnya bagi masyarakat non-Arab, menawarkan berbagai tantangan. Para guru mengajar seringkali meminta rekomendasi buku panduan yang baik, mudah, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna (user friendly)

Buku ini memiliki pembahasan yang cukup unik, tetapi tepat guna ini ditulis oleh Rafi’ el-Imad Faynan, seorang profesor Bahasa Arab dari Jamia Millia Islamia, New Delhi. Metode ditulis berdasarkan temuan-temuan dari pengalaman mengajarnya yang efektif selama bertahun-tahun juga keahlian serta luasnya pemahaman penulis yang sangat intens dalam belajar dan mengajarkan bahasa Arab, tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga lingkungan keluarga yang sangat mendukung, membuat metode yang dipaparkan di sini sangat memuaskan bagi sejumlah besar masyarakat pengguna dan yang belajar bahasa. Tidak mengherankan, apabila buku ini telah digunakan sebagai panduan belajar di berbagai negara seperti benua Asia dan Afrika, bahkan sebagian dari negara Eropa dan Amerika Latin yang menggunakan Bahasa Inggris.

Mahadi Ihsanuddin Ramadhan - Belajar Bahasa Arab Dengan Mudah
Resensi Buku Belajar Bahasa Arab Dengan Mudah oleh Mahadi Ihsanuddin Ramadhan

Pada awalnya, buku ini dibuka dengan transliterasi huruf Arab dan Latin (dari ا s.d. ي). Ada beberapa syarat dan ketentuan dalam menggunakan huruf Arab, yaitu huruf Arab dibaca dari kanan ke kiri, kemudian ditulis bersambung dengan huruf lain, kecuali ا د ذ ر ز و. Huruf pertama pada alif memiliki dua fungsi. Pertama, menandai agar suatu huruf konsonan dibaca panjang. Kedua, berfungsi sebagai hamzah yang menunjukkan bunyi vokal. (hlm. 11)

Ada beberapa pelafalan dalam bahasa Arab, di antaranya bunyi bibir (Labial), bunyi daun lidah dan lengkung kaki gigi (Interdental), bunyi di antara gigi dengan nada tegas dan rendah (Dental, Emphatic, and Low Timbre), bunyi depan lidah dan langit-langit keras mulut (Frontal Polatal), bunyi langit-langit keras mulut (Polatal), bunyi getaran pangkal lidah (Uvular), bunyi tenggorokan atas (Pharingeal), dan bunyi ء dan ه. Bunyi huruf selain delapan bunyi huruf dapat diucapkan seperti dalam bahasa Indonesia. (hlm. 12)

Ada dua jenis tanda vokal, yaitu tanda vokal pendek dan tanda vokal panjang. Tanda vokal pendek terdiri dari dhammahfathah, dan kasrah. Dhammah dan fathah ditulis di atas huruf, sedangkan kasrah ditulis di bawah huruf. Sedangkan tanda vokal terdiri dari tiga jenis, yaitu fathah bertemu alif (أ), kasrah bertemu ya’ mati (يْ), dan dhammah bertemu wau mati (وْ). (hlm. 14-15)

Dua diftong seperti au pada jau, dan ai pada jai terbentuk ketika fathah diikuti oleh tanda vokal atau و dan ي. (hlm. 15)

Ada empat tanda ortografi, yaitu sukun, tasydid, mad, dan tanwin. (hlm. 15)

Dalam bahasa Arab, kata benda dan kata sifat dapat berbentuk definit (tertentu) maupun indefinit (tidak tertentu). Ketika satu huruf terdiri diberi tanda ال, ia tidak dapat diberi tanda tanwin. Sedangkan, ketika ال menjadi awalan kata yang dimulai dengan empat belas huruf berikut, hurufnya tidak diuccapkan, tetapi dilesapkan menjadi huruf ganda [Huruf Syamsiyah], di antaranya ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ن. Selain empat belas huruf tersebut, ل pada ال, tetap diucapkan [Huruf Qamariyah]. (hlm. 17-18)

Dalam bahasa Arab, bunyi bacaan akhir disebut تَشْكيلُ atau شَكْلُ, terdiri dari nominatif (dengan dammah), akusatif (dengan fathah), dan genitif (dengan kasrah). Berdasarkan kedudukannya dalam kalimat, satu kata pada umumnya dapat mempunyai tiga macam bunyi bacaan akhir atau tiga tanda vokal. (hlm. 18)

Kata benda dalam bahasa Arab terdiri dari kata maskulin dan kata feminin. Pada umumnya, huruf yang tidak memiliki tanda ة yang disebut ta’ marbuthah (ta’ mudawwarah) bersifat maskulin. Sedangkan, huruf yang memiliki tanda ة berubah menjadi feminin. Kata maskulin disebut sebagai مُذَكَّرٌ, sedangkan kata feminin disebut sebagai مُؤَنث. (hlm. 19)

Pada pelajaran pertama, buku ini membahas tentang subjek dan predikat dalam bahasa Arab. Subjek dalam bahasa Arab disebut مُبْتَدَأُ karena terletak di depan. Sedangkan, predikat dalam bahasa Arab disebut خَبَرُ. Tanda harakat akhir untuk mubtada’ dan khabar adalah dammah. Jika subjeknya mudzakkar/maskulin maka predikatnya juga harus mudzakkar, sedangkan jika subjeknya muannats/feminin maka predikatnya juga harus muannats. (hlm. 23-24)

Kata “ini” dan “itu” disebut sebagai kata penunjuk. Kata penunjuk bermakna “ini” untuk kata maskulin adalah هَذَا, sedangkan “ini” untuk kata feminin adalah هَذِهِ. Selanjutnya, kata penunjuk bermakna “itu” untuk kata maskulin adalah ذَلِكَ, sedangkan “itu” untuk kata feminin adalah تِلْكَ. Kecuali, kata benda yang ditunjuk definit (tertentu) harus ditambah dengan ال. Kata penunjuk seperti ini dinamakan اِسْمُ الإِشَارَةِ, sedangkan kata yang ditunjuk dinamakan المُشَارُ إلَيْهِ. (hlm. 24)

Pada pelajaran kedua, buku ini membahas tentang kata depan dalam bahasa Arab. Kata depan dalam bahasa Indonesia terbagi menjadi lima, yaitu di, ke, dari, pada, untuk, dengan, dll. Sedangkan, kata depan dalam bahasa Arab disebut حَرْفُ الْجَرِّ. Isim (kata benda) dalam bahasa Arab dapat diberi tiga macam harakat bunyi akhir (tergantung kedudukannya dalam kalimat), tetapi tanpa mengubah arti.Tanda harakat bunyi akhir untuk isim yang terletak setelah حَرْفُ الْجَرِّ adalah kasrah. Isim yang mendapat bunyi akhir kasrah disebut مَجْرُوْرٌ, artinya “isim yang di-jar-kan/dikenai aturan huruf jar). Jenis-jenis huruf jar antara lain : فِي، إِلَى، عَلَى، مِنْ، لِ، مَعَ، بِ، حَتَّى، مُنْذُ، عَنْ، كَ. Pengecualian tasykil majrur : dalam bahasa Arab, sebagian besar nama-nama perempuan yang lazim/tertentu (misalnya : سُعَادُ، فَرِيدةُ، فَاطِمَةُ) tidak diberi harakat bunyi akhir berupa tanwin atau kasrah, tetapi diberi harakat fathah. (hlm. 27-28)

Pada pelajaran ketiga, buku ini membahas tentang subyek di akhir dan predikat di depan dalam bahasa Arab. Dengan kata lain, definit dalam bahasa Arab adalah partikel yang menyebabkan kata harus diletakkan di depan, tetapi dalam kaidah bahasa Indonesia tidak demikian. (hlm. 33)

Pada pelajaran keempat, buku ini membahas tentang kata ganti dalam bahasa Arab. Kata ganti dalam bahasa Arab disebut الضَّمِيرُ, jamaknya الضَّمَائِرُ. ضَمِيرُ dalam bahasa Arab dibagi menjadi dua, yaitu dhamir munfasil dan dhamir muttasil. Dalam bahasa Indonesia, kata seperti dia, kamu, saya, dll. disebut sebagai kata ganti nominal, sedangkan dalam bahasa Arab disebut dhamir munfasil dan syakalnya tidak berubah (tetap), yaitu : هُوَ (dia laki-laki), هِيَ (dia perempuan), أَنْتَ (kamu laki-laki), أَنْتِ (kamu perempuan), dan أَنَا (saya). Dalam bahasa Indonesia, kata seperti [milik]-ku, kau, mu, dan nya, disebut kata ganti milik/empunnya. Dalam bahasa Arab disebut dhamir muttasil. Dhamir muttasil ini ditulis serangkai sebagai akhiran. Sebuah kata yang berakhiran dhamir muttasil tidak dapat diberi tanda tanwin atau tanda definit ال. (hlm. 35)

Dhamir muttasil ini mempunyai syakal yang tetap, kecuali untuk kata “[milik]-nya (laki-laki) yang menjadi هُ. Misalnya, هُ ([milik]-nya laki-laki), هَا ([milik]-nya perempuan), كَ ([milik]-mu laki-laki), كِ ([milik]-mu perempuan), dan ي ([milik]-ku (laki-laki/perempuan). (hlm. 36-37)

لِ, syakal-nya berubah menjadi fathah ketika menjadi awalan لَهُ, seperti لَهُ (untuknya-laki-laki), لَهَا (untuknya-perempuan), لَكَ (untukmu-laki-laki), dan  لَكِ (untukmu-perempuan). Tetapi tetap kasrah jika diawali dengan dhamir muttasil ي, yaitu tetap menjadi لِي. (hlm. 37)

Pada pelajaran kelima, buku ini membahas tentang kata-kata yang mengandung arti ‘kepemilikan’ dalam bahasa Arab. Kata sebelum [milik] disebut مُضَافُ (dimiliki). Mudhaf tidak dapat diberi tanwin/nunasi dan tanda definit ال, tetapi dapat diberi ketiga harakat bunyi akhir (dammah, kasrah, dan fathah). Meskipun mudhaf tidak dapat diberi tanda definit ال, tetapi mudhaf termasuk kata yang definit karena menjadi milik dari sesuatu atau seseorang. Sedangkan kata yang terletak setelah [milik] disebut مُضَافُ إِلَيْهِ, pemilik dan syakal-nya adalah kasrah. Jika mudhaf ilaih-nya berupa nama perempuan tertentu seperti فَاطِمَةُ maka syakal-nya menjadi fathah tanpa tanwin, sebagaimana nama-nama atau kata tidak dapat menerima kasrah atau tanwin. (hlm. 40-41)

Pada pelajaran keenam, buku ini membahas tentang kata sifat dan kata yang diberi sifat dalam bahasa Arab. Misalnya, kata ‘baru’ dalam bahasa Indonesia merupakan kata sifat, sedangkan dalam bahasa Arab dinamakan صِفَةٌ. Contoh lain, ‘Pena’ dalam bahasa Indonesia merupakan kata benda yang diberi/diacu oleh kata sifat, sedangkan dalam bahasa Arab disebut مَوْصُوْفٌ. Dalam bahasa Indonesia, kata sifat biasanya terletak di belakang/sesudah kata yang diberi atau diacu oleh kata صِفَةٌ, demikian pula dalam bahasa Arab, مَوْصُوْفٌ diletakkan di depan atau lebih dulu sebelum صِفَةُ. (hlm. 45-46)

Pada pelajaran ketujuh, buku ini membahas tentang kalimat bentuk lampau, pelaku, dan objek dalam bahasa Arab. Kata kerja bentuk lampau dalam bahasa Arab disebut فِعْلُ الْمَاضِ, yaitu untuk menunjukkan peristiwa/kejadian yang sudah berlangsung sebelumnya. Bahasa Arab memiliki pola kata kerja yang menunjukkan waktu dengan sendirinya tanpa tambahan keterangan apapun, sedangkan bahasa Indonesia tidak memiliki pola kala/waktu dalam kalimat sehingga ditambah kata keterangan seperti telah, sudah, dll. Orang yang melakukan peristiwa disebut فَاعِلٌ (subjek, pelaku), sedangkan objeknya dinamakan مَفْعُوْلٌ. Untuk fiil madhi sampai dengan fiil nahi, pola pemakaian kata kerja dalam bahasa Arab berbeda dengan pola pemakaian kata kerja dalam bahasa Indonesia. Fiil madhi mempunyai 14 konjugasi (14 pola) yang disesuaikan dengan gender kata dan jumlah pelaku (fa’il)-nya. (hlm. 51-53)

Pada pelajaran kedelapan, buku ini membahas tentang kalimat bentuk kini dalam bahasa Arab. Kata kerja bentuk kini dalam bahasa Arab disebut فِعْلُ الْمُضَارِعُ. Fiil mudhari menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung saat ini. Sebagaimana halnya fiil madhi, fiil mudhari juga memiliki 14 konjugasi. Namun, konjugasi fiil mudhari pada awalan dan akhiran tertentu, serta penulisan bersambung dan terpisah dipergunakan untuk menunjukkan jumlah dan gender kata. (hlm. 61-62)

Pada pelajaran kesembilan, buku ini membahas tentang kalimat perintah dalam bahasa Arab. Kata kerja yang menunjukkan perintah atau meminta seseorang untuk melakukan sesuatu disebut فِعْلُ الأَمْرِ. Fiil amri merupakan turunan dari fiil mudhari. Jika huruf kedua fiil mudhari berharakat sukun, alif merupakan awalan dari fiil amri. Awalan alif ini hanya mendapat dua harakat, yaitu dammah atau kasrah. Jika huruf ketiga fiil mudhari berharakat dammah maka harakat alif awalnya adalah dammah, jika huruf ketiganya bukan dammah maka harakat alif awalnya adalah kasrah. Huruf akhir dari fiil amri berharakat sukun. Konjugasi untuk fiil amri dan fiil nahi ada enam macam dengan sedikit perbedaan pada harakat akhirnya, kecuali pada kata perintah seperti تَعَالَ (datanglah!) dan هَاتِ (ambillah!) yang hanya mempunyai bentuk fiil amri, tidak memiliki turunan kata kerja dari fiil mudhari atau fiil madhi karena dalam dua kata perintah tersebut dinamakan اِسْمٌ فَاعِلٌ (kata benda perintah), tetapi orang Arab menggunakannya sebagai kata kerja perintah. Awalan alif pada fiil amri sebenarnya adalah hamzah wasal (hamzah penghubung) karena pada dasarnya tidak diucapkan/dilafalkan jika didahului oleh konsonan, misalnya وَآقْرَأْ كِتَابَكَ (dibaca waqra’ bukan wa iqra’) yang artinya “Dan bacalah bukumu!”. Harakat sukun pada huruf terakhir fiil amri diubah menjadi kasrah apabila fiil amri diikuti kata benda dengan ال seperti pada إِقْرَإِ الدَّرْسَ (iqra’id-darsa, bukan iqra’ad-darsa). Hal ini dilakukan untuk melancarkan pelafalan dan menghindari pemenggalan/terputusnya pengucapan. Pada kedudukan kalimat tersebut harakat yang diperbolehkan hanya kasrah. (hlm. 68-71)

Pada pelajaran kesepuluh, buku ini membahas tentang kalimat larangan/negasi dari kalimat perintah dalam bahasa Arab. Kalimat larangan dalam bahasa Arab disebut فِعْلُ النَّهْيِ. Kata kerja ini berfungsi untuk mencegah suatu tindakan. Fiil nahi merupakan turunan dari fiil amri. Pada fiil nahi, harakat bunyi akhirnya juga sukun. Konjugasinya hanya enam sebagaimana pada fiil amri. (hlm. 75-76)

Pada pelajaran kesebelas, buku ini membahas berbagai istilah tata bahasa yang sangat penting dalam bahasa Arab, di antaranya نَكِرَةٌ (kata benda tak tentu/indefinit), مَعْرِفَةٌ (kata benda tentu/definit), مُعْرَبٌ (kata benda yang berubah), مَبْنِيٌّ (kata benda yang tidak berubah alias tetap), جُمْلَةُ الإِسْمِيَّةُ (kalimat nominal), جُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ (kalimat verbal), حُرُوْفُ الْعَطْفِ (kata sambung/kata penghubung), أَسْمَاءُ الإِشَارَةِ (kata penunjuk), فِعْلُ الثُّلَاثِيُّ الْمُجَرَّدُ (kata kerja dasar tiga huruf), أَدَوَاتُ الإِسْتِفْهَامِ (kata tanya), أَيُّ dan أَيَّةُ (yang mana?), جِدًّا (sangat), حُرُوْفُ النَّفْيِ (kata negasi), حُرُوْفُ النِّدَاءِ dan مُنَادَى (kata panggilan), حُرُوْفُ الإِسْتِقْبَالِ (kata untuk menunjukkan sesuatu yang akan datang), أَدَاةُ التَّعْرِيفِ (tanda definit), أَيْضًا (juga/pula), مَمْنُوْعُ مِنَ الصَّرْفِ (kata benda yang tidak mendapat syakal kasrah atau tanwin), فِعْلُ اللَّازِمُ (kata kerja intransitif/tidak berobjek), فِعْلُ المُتَعَدِّي (kata kerja transitif/berobjek), قَدْ (sesungguhnya), لَا (tidak) dan نَعَمْ (ya), أَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ (lima kata benda khusus), الْمُؤَنَّثُ السَّمَاعِيُّ (kata yang dianggap feminin dalam pemakaian bahasa sehari-hari), عِنْدَ (punya), هَمْزَةِ الْوَصْلِ (hamzah penghubung), مَصْدَرٌ (kata kerja infinitif/isim yang menyerupai fi’il), اَلِفُ المَقْصُوْرَةُ (alif yang dipendekkan), وَقْتٌ (waktu/jam), dan الشُّهُوْرُ (bulan). (hlm. 79-117)

Pada pelajaran kedua belas, buku ini membahas tentang kata kerja bahasa Arab yang dianggap lemah. Di sini terdapat perbedaan bentuk madhi dan mudhari’ dan terdiri dari tiga buah huruf yang disebut hutuf ‘illat, yaitu ا و ي. Kata kerja seperti كَتَبَ merupakan kata kerja yang kuat (صَحِيْحٌ) karena ketiga huruf penyusunnya tidak ada yang berupa huruf ‘illat. Kata kerja yang mempunyai huruf ‘illat merupakan kata kerja yang lemah, baik kata kerja yang berada di awal, tengah maupun akhir. Misalnya, قَالَ – يَقُوْلُ. Huruf illat syakal-nya dianggap sukun dan tidak bersuara. Jadi, huruf ي pada kata depan seperti فِي، إِلَى، عَلَى tidak diucapkan. Terdapat sedikit perubahan atau penyesuaian konjugasi kata kerja yang memiliki huruf ‘illat. Alasannya bahwa dalam bahasa Arab tidak diperbolehkan menggabungkan dua tanda sukun atau disebut إِجْتِمَاعُ السَّاكِنَيْنِ. Ketika dua tanda sukun menjadi satu, yang ‘lemah’ (mu’tal) di antara keduanya harus dihilangkan karena perubahan konjugasi pada fiil mu’tal yang sering digunakan ada delapan bentuk. (hlm. 119-120)

Pada pelajaran ketiga belas, buku ini membahas tentang keterangan waktu dalam bahasa Arab atau yang dikenal dengan istilah ظَرَف زَمَانِ. Dalam bahasa Arab, kata keterangan seperti “[pada] pagi hari” dapat diungkapkan dengan dua cara : dengan menggunakan kata depan, seperti فِي الصَّبَاحِ, yang berharakat kasrah atau tanpa kata depan yang berharakat fathah seperti صَبَاحًا. Kata صَبَاحًا disebut zharaf zaman atau keterangan waktu. Tidak ada perbedaan makna antara kedua kalimat tersebut, yakni فِي الصَّبَاحِ dan صَبَاحًا. Kebanyakan, zharaf zaman berharakat fathah, hanya sedikit yang tidak. Zharaf zaman yang banyak digunakan, di antaranya : اليَوْمَ (hari ini), غَدًا (besok), اَمْسِ (kemarin), ظُهْرًا (sore), مَسَاءً (petang), لَيْلًا (malam), نَهَارًا (sepanjang hari), dan أَحْيَانًا (kadang-kadang). Sedangkan zharaf zaman yang berperan sebagai mudhaf, yaitu قَبْلَ (sebelum), بَعْدَ (sesudah), خِلَالَ (selama), كُلَّ يَوْمٍ (setiap hari), كُلَّ أُسْبُوْعٍ (setiap minggu), كُلَّ شَهْرٍ (setiap bulan), كُلَّ عَامٍ (setiap tahun), dan ذاتَ يَوْمٍ (suatu hari). Kemudian, zharaf zaman yang berperan sebagai shifat dan maushuf, yaitu أُسْبُوْعِ الْقَادِمَ (minggu depan), أُسْبُوْعِ الْمَاضِيَ (minggu lalu), شَهْرَ الْقَادِمَ (bulan depan), dan عَامَ الْقَادِمَ (tahun depan). (hlm. 164-166)

Pada pelajaran keempat belas, buku ini membahas tentang keterangan tempat dalam bahasa Arab atau yang dikenal dengan istilah ظَرَف مَكَانِ. Kecuali pada huruf jar, sebagian besar zharaf makan berharakat fathah, seperti فَوْقَ (di atas). Sebagian besar zharaf makan berbentuk mudhaf. Oleh karena itu, kata benda sesudahnya yang menjadi mudhaf ilaih, berharakat kasrah. Beberapa zharaf makan yang berperan sebagai mudhaf, yaitu تَحْتَ (di bawah), خَلْفَ (di belakang), وَرَاءَ (di belakang/di balik), أَمَامَ (di depan), قُرْبَ (dekat), فَوْقَ (di atas), بَيْنَ (di antara), dan بِجِوارِ (di samping). Sedangkan zharaf makan yang bersifat mabni adalah هُنَا (di sini), dan هُنَاكَ (di sana). (hlm. 169-170)

Pada pelajaran kelima belas, buku ini membahas tentang fi’il yang mempunyai huruf berulang yang disebut dengan فِعْلُ الْمُضَاعَفُ. Fi’il mudhaaf adalah kata kerja yang huruf kedua atau ketiganya, misalnya pada kata مَرَّ. Jika dua huruf dengan syakal yang sama muncul berurutan, tidak ditulis secara terpisah seperti ini مَرَرَ, tetapi diberi tanda syaddah sebagaimana yang digunakan pada مَرَّ dan يَمْرُرُ menjadi يَمُرُّ. Beberapa fi’il mudha’af yang banyak digunakan, yaitu دَقَّ – يَدُقُّ (mengetuk), فَرَّ- يَفِرُّ (melarikan diri), مَرَّ – يَمُرُّ (lewat), شَنَّ- يَشُنُّ (meluncurkan), dan شَمَّ – يَشُمُّ (membaui). (hlm. 174-175, dan hlm. 177)

Pada pelajaran keenam belas, buku ini membahas tentang bentuk dual dan penerapannya dalam Kalimat Idhafi berbahasa Arab. Sebelum bahasan yang keenam belas, semua kata yang telah saya pelajari masih dalam bentuk مُفْرَدٌ (tunggal), seperti ‘seorang anak laki-laki’. Orang atau benda yang berjumlah dua seperti ‘dua orang anak laki-laki’ disebut مُثَنَّى (dual). Untuk kata yang berharakat akhir dammah : tambahan akhiran alif dan nun yang bertanda syakal kasrah pada kata الْوَلَدِ, membuat kata yang semula bermakna mufrad (tunggal) tersebut menjadi bermakna al-mutsanna (dual). Jika الْوَلَدُ berarti ‘seorang anak laki-laki’ maka الْوَلَدَانِ berarti ‘dua orang anak laki-laki’. Jadi, الْوَلَدَانِ adalah bentuk dual dengan dammah, yang dapat Anda pergunakan sebagai subjek, predikat atau fail dan bentuk lain yang bertanda dammah. Untuk kata yang berharakat akhir fathah dan kasrah : agar menjadi مُثَنَّى diberi tambahan akhiran ي dan نِ pada kata الْوَلَد sehingga menjadi الْوَلَدَيْنِ. Jika bentuk al-mutsanna ini menjadi mudhaf seperti : ‘dua anak laki-laki Majid’ maka nun-nya dihilangkan menjadi وَلَدَا مَاجِدٍ atau وَلَدَيْ مَاجِدٍ. INGAT! Jika ada kata kerja yang mendahului fa’il yang al-mutsanna, penggunaannya yang umum adalah dengan membuat kata kerjanya mufrad, tetapi jika fa’il-nya yang mendahului (terletak di depan) kata kerja maka kata kerjanya juga harus mutsanna. Jika subjeknya al-mutsanna maka predikatnya juga harus al-mutsanna dengan alif dan nun. Untuk maushuf yang al-mutsanna maka shifat-nya juga harus al-mutsanna. (hlm. 180-182)

Pada pelajaran ketujuh belas, buku ini membahas tentang bentuk plural/jamak khusus dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia, untuk mengubah suatu kata yang tunggal menjadi jamak (plural) adalah dengan mengulang-ulang kata tersebut atau menambah kata keterangan seperti “para”, “beberapa”, dsb. Misalnya ‘murid’ menjadi ‘murid-murid’ atau ‘para murid’, atau ‘beberapa murid’. Dalam bahasa Arab, cara untuk mengubah satu kata tunggal menjadi jamak (plural) cukup berbeda dengan bahasa Indonesia karena tidak diulang atau tidak diberi tambahan keterangan seperti “para”, dsb. tetapi dengan mengubah pola harakat katanya (wazan). Ada yang mengikuti pola-pola tertentu ada yang arbitrer (tidak mengikuti pola yang baku, namun berdasarkan kelaziman penggunaannya dalam pemakaian bahasa). Kata benda jamak ini disebut جَمْعُ المُكَسَّرُ yang artinya bentuk jamak yang ‘rusak/tak beraturan’ karena telah ‘merusakkan’ bentuk kata benda tunggalnya tanpa aturan tertentu. Misalnya, pada kata tunggal سَفِيْرٌ yang di-‘rusak’ menjadi سُفَرَاءُ pada bentuk jamaknya, yaitu dengan membuang huruf ketiganya : ى dan memasukkan alif dan hamzah di akhir kata. Atau pada kata benda tunggal اِمْرَأَةٌ (perempuan) yang diubah secara total dan pada bentuk jamaknya menjadi نِسَاءٌ (perempuan-perempuan). INGAT! Bahwa aturan bentuk jamak untuk yang berakal/manusia (لِلْعَاقِلِ) berbeda untuk jamak yang tidak berakal/bukan manusia (لِغَيْرِ الْعَاقِلِ) – benda, binatang, dsb. Bentuk jamak untuk yang berakal لِلْعَاقِلِ)), yaitu pertama, predikat untuk subjek yang jamak harus jamak juga. Kedua, jika kata kerja mendahului fa’il, kata kerja tersebut tetap dalam bentuk tunggal. Ketiga, jika fa’il-nya mendahului kata kerjanya maka keduanya harus berbentuk jamak. Keempat, jika maushuf-nya jamak, shifat-nya juga jamak. Sedangkan bentuk jamak untuk yang tidak berakal (لِغَيْرِ الْعَاقِلِ) adalah : Pertama, subjek jamak akan mendapat predikat feminin tunggal. Kedua, fa’il jamak yang tidak berakal, kata kerjanya berbentuk feminin tunggal. Ketiga, shifat untuk jamak yang tidak berakal adalah feminin tunggal. (hlm. 188-193)

Pada pelajaran kedelapan belas dan kesembilan belas, buku ini sejatinya membahas tentang bunyi maskulin dan feminin plural/jamak dalam kalimat idhafi. Dalam pembahasan sebelumnya, kata bentuk jamak ini adalah kata bentuk jamak yang tidak mengikuti aturan tertentu (al-jam’ul-mukassar) dimana suatu kata bentuk tunggal dapat dirusak, dihapus, atau ditambah dengan huruf lain. Dalam bahasa Arab, ada pula kata benda maskulin yang hanya memerlukan tambahan akhiran dua huruf tertentu untuk mengubah dari tunggal menjadi jamak karena tidak ada bagian yang di-‘rusak’, kata berbentuk jamak tersebut disebut sebagai jamak maskulin yang ‘selamat’. Dalam bahasa Arab, bunyi maskulin plural disebut جَمْعُ المُذَكَّرُ السَّالِمُ, sedangkan bunyi feminin plural disebut جَمْعُ المُؤَنَّثُ السَّالِمُ. Dalam gender maskulin; untuk dammah, و dan ن dengan fathah, yang ditambahkan sebagai akhiran pada kata maskulin tunggal. Huruf و di sini menandakan dammah, sedangkan ن dan fathah-nya tidak diperhitungkan. Kemudian untuk fathah dan kasrah, ي dan ن dengan fathah, yang ditambahkan sebagai akhiran pada kata maskulin tunggal. Huruf ن di sini menandakan fathah dan/atau kasrah, sedangkan ن dan fathah-nya tidak diperhitungkan. Berikutnya, dalam gender feminin; untuk dammah, ا dan ت dengan dammah, yang ditambahkan sebagai akhiran setelah tanda ة pada kata feminin tunggal. Kemudian untuk fathah dan kasrah, ا dan ت dengan kasrah ditambahkan sebagai akhiran pada kata bentuk tunggal. Berbeda dengan jama’ mudzakkar salim, bentuk jama’ muannats salim pada kalimat idhafi tidak ada yang dihapus. Pola kata benda tunggal yang termasuk jama’ mudzakkar salim, yaitu مُسَافِرٌ (pengembara), مُحَاضِرٌ (pengajar/dosen), إِسْرائِيليٌّ (orang Israel), أَمْرِيكِيٌّ (orang Amerika), مُوَاطِنٌ (penduduk), دِبْلُومَاسِيٌّ (diplomat), بَاكِسْتَانِيٌّ (orang Pakistan), سَائِقٌ (sopir), حَمَّالٌ (pengangkut barang), اِرْهَابِيٌّ (teroris), سِيَاسِيٌّ (politisi), مُقَاتِلٌ (petarumg/pejuang), عَسْكَرِيٌّ (orang Palestina, orang militer). Pola kata benda tunggal yang termasuk jama’ muannats salim, yaitu مَكْتَبَةٌ – مَكْتَبَاتٌ (perpustakaan-perpustakaan), طَائِرَةٌ – طَائِرَاتٌ (pesawat-pesawat), صَفْحَةٌ – صَفْحَاتٌ (halaman-halaman), كُلِيَّةٌ – كُلِّيَّاتٌ (kampus-kampus), ثَلَّاجَةٌ –  ثَلَّاجَاتٌ (kulkas-kulkas), سَاعَةٌ – سَاعَاتٌ (jam-jam), جَامِعَةٌ – جَامِعَاتٌ (universitas-universitas), صَيْدَلِيَّةٌ – صَيْدَلِيَّاتٌ (toko-toko obat), فَلَّاحَةٌ – فَلَّاحَاتٌ (petani-petani perempuan), كُرَّاسَةٌ – كُرَّاسَاتٌ (buku-buku catatan), طِفْلَةٌ – طِفْلَاتٌ (anak-anak), مَجَلَّةٌ – مَجَلَّاتٌ (majalah-majalah), زُجَاجَةٌ – زُجَاجَاتٌ (botol-botol), مُمَرِّضَةٌ – مُمَرِّضَاتٌ (perawat-perawat), عُطْلَةٌ – عُطْلَاتٌ (hari-hari libur). Sedangkan pola kata benda jama’ muannats salim yang kata bentuk tunggalnya maskulin adalah بَيَانٌ – بَيَانَاتٌ (penjelasan-penjelasan), خِطَابٌ – حِطَابَاتٌ (surat-surat), مُسْتَشْفَى – مُسْتَشْفَيَاتٌ (rumah sakit-rumah sakit). (hlm. 201-204 dan hlm. 207-209)

Pada pelajaran terakhir, buku ini membahas tentang kata kerja pasif dalam bahasa Arab atau yang dikenal dengan فِعْلُ المَجْهُوْلُ. Pada kalimat : “Orang itu telah membunuh (قَتَلَ الرَّجُلُ), kata kerja قَتَلَ merupakan kata kerja aktif yang disebut فِعْلُ المَعْرُوْفُ. Sedangkan pada kalimat : “Orang itu telah dibunuh (قُتِلَ الرَّجُلُ) merupakan kata kerja pasif yang disebut فِعْلُ المَجْهُوْلُ. Kata “orang [itu]” pada kalimat tersebut merupakan نَائِبُ الفَاعِلِ. Syakal-nya berharakat dammah. Untuk membentuk kata kerja pasif pada fi’il madhi dilakukan dua perubahan dari bentuk aktif kata kerja : قَتَلَ, yaitu huruf pertamanya dammah, huruf kedua dari belakangnya berharakat kasrah sehingga menjadi قُتِلَ (Ia telah dibunuh). Di sini tidak terdapat terjemahan untuk ‘telah’. INGAT! Hanya kata kerja berobjek (fiil muta’addi) yang dapat menerima maf’ul seperti قَتَلَ، فَتَحَ، أَخَذَ yang dapat diubah menjadi فِعْلُ المَجْهُوْلُ. Kata kerja tidak berobjek (فِعْلُ اللَّازِمُ) seperti ذَهَبَ tidak pernah diganti menjadi ذُهِبَ dan يُذْهَبُ, tetapi tetap menjadi يَذْهَبُ. قُتِلَ pada fiil madhi dan يُقْتَلُ pada fiil mudhari mempunyai akhiran dan awalan yang sama sebagai kata kerja aktif. Untuk menegasikan kara kerja pasif digunakan مَا pada fiil madhi dan لَا pada fiil mudhari. Contoh bentuk pasif dari fiil mu’tal, yaitu قِيلَ – يُقَالُ (telah dikatakan), بِيعَ – يُبَاعُ (telah dijual), نِيلَ – يُنَالُ (telah diterima), دُعِيَ – يُدْعَى (telah dipanggil), طُوِيَ – يُطْوَى (telah dilipat), وُجِدَ – يُوجَدُ (telah ditemukan). (hlm. 212-214)

Kelebihannya adalah materi yang disajikan dalam buku ini disusun secara bertahap sehingga memandu pembaca langkah demi langkah mulai dari struktur yang sederhana menuju kepada struktur yang lebih rumit (kompleks). Pada tahapan yang kompleks ini, pembaca akan sangat memerlukan basis atau landasan yang kuat dari materi-materi dasar sebelumnya. Buku panduan bahasa Arab ini juga berperan penting dalam keberhasilan belajar, apalagi bagi mereka yang ingin melakukan pembelajaran secara mandiri. Buku yang dapat merangkum semua kebutuhan pembaca dengan tepat dan jelas, serta menyampaikan isi kandungannya secara efektif akan mendukung proses pembelajaran bahasa ini menjadi lebih baik.

Kekurangannya adalah materi yang disajikan dalam buku ini agak membingungkan, tidak tepat atau tidak ‘logis’ terlebih pada pembahasan materi dasar sehingga pembaca akan kehilangan semangat belajar atau menjadi tidak mengerti serta tidak memahami bahasan-bahasan selanjutnya dengan baik.

Jadi, sasaran buku ini ditujukan kepada siapapun yang ingin mempelajari bahasa Arab mulai dari awal hingga akhir agar dapat mengandalkan buku ini sebagai salah satu pedoman utama. Buku ini dirancang agar pembaca dapat memahaminya dengan mudah bahkan oleh pembaca pemula karena isinya memuat materi dasar tata bahasa Arab yang praktis dan dapat digunakan sebagai landasan yang sangat baik untuk pemahaman yang lebih komprehensif pada tingkat lanjut (ahli).

Tujuan yang dapat dicapai oleh seorang analis bahasa Arab adalah mahasiswa/i mampu menganalisis fenomena bahasa Arab dan bahasa lokal dengan memanfaatkan teknologi yang relevan, mahasiswa/i mampu berkomunikasi dan bertatakrama dengan bahasa Arab secara baik dan benar, mahasiswa/i perlu beradaptasi menghadapi fenomena bahasa Arab dan bahasa lokal yang terjadi saat ini serta memberikan usulan penyelesaian problematika kehidupan berdasarkan data yang ada.

Tujuan yang dapat dicapai oleh seorang analis sastra Arab adalah mahasiswa/i perlu untuk menganalisis karya sastra, baik sastra Arab maupun sastra lokal dengan memanfaatkan teknologi yang relevan. Mahasiswa/i mampu mengapresiasi, menilai, dan menciptakan karya sastra Arab dan karya sastra lokal secara efektif, efisien, dan santun berbasis khazanah lokal Islam pada 2025.

Sedangkan, untuk menjadi praktisi penerjemahan bahasa Arab tingkat madya, mahasiswa/i perlu adanya pemahaman teori penerjemahan serta mampu menerjemahkan literatur berbahasa Arab ke dalam bahasa sasaran maupun sebaliknya, baik secara lisan maupun tulisan. Mahasiswa/i mampu menganalisis teks-teks terjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa sasaran (misalnya, dari bahasa Arab ke bahasa Inggris), dst. serta mampu untuk memublikasikan hasil terjemahan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan memanfaatkan teknologi yang relevan.

Terakhir, untuk menjadi editor sastra Arab tingkat madya, mahasiswa/i perlu memahami gagasan penulis dalam teks berbahasa Arab dan lokal, mampu menyunting naskah, baik dari segi bahasa maupun isi kandunganya sesuai kaidah kebahasaan, serta mampu mengomunikasikan suntingan naskah kepada penulis dengan santun melalui pemanfaatan teknologi yang relevan.