Kitab Rujukan bagi Pembelajar Qowa’id Nahwiyyah Level Menengah

Posted on
Judul Buku Syarah Qothrun Nada wa  Ballaus Shoda
Pengarang Abu Muhammad ‘Abdullah Jamaluddin bin Yusuf bin Ahmad bin Abdillah bin Hisyam Al Anshori
Penerbit Dar Ath-Thoai’
Tahun Terbit 2009
Cetak Pertama, September
Jumlah Halaman 367 halaman

Oleh Rhadienka Abiesza (Mahasiswa BSA Semester 2 Tahun 2020)

Penulis kitab ini adalah Abu Muhammad ‘Abdullah Jamaluddin bin Yusuf bin Ahmad bin Abdillah bin Hisyam Al-Anshori Al-Mishri dilahirkan di Kota Kairo Bulan Dzul Qo’dah Tahun 708 H/1309 M. Beliau mulazamah kepada Asy-Syihab ‘Abdul Lathif bin Al-Marhal, membaca Al-Qur’an kepada Ibnus Sarraaj, mendengan Diwan Zuhair Bin Abi As-Salam Al-Muzani kepada Abu Hayyan, beliau menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh At-Taj At-Tibrizi, membaca kepada At-Taj Al-Fakihani Syarh Al-Isyaroh miliknya kecuali lembaran-lembaran akhir, meriwayatkan Syathibiyyah dari Ibnu Jama’ah, dalam fiqih awalnya beliau bermadhad Syafi’I kemudian pindah bermadzhab Hanbali sehingga beliau hafal Mukhtashor Al-Kharqi.

Syarh Qatrun Nada wa Balush Shada oleh Rhadienka Abiesza
Resensi Syarh Qatrun Nada wa Balush Shada oleh Rhadienka Abiesza

Kitab ini merupakan kitab yang membahas qowa’id nahwiyyah level lanjutan yang jarang tersentuh oleh para pembelajar qowa’id nahwiyyah, dimana kebanyakan para pembelajar menggunkan Mutammimah Al-Ajurrumiyah dan Syarahnya sebagai pembelajaran lanjutan dari Qowa’id Nahwiyyah. Oleh karena itu, sangat sesuai rasanya jika kitab ini diperkenalkan kepada para pembelajar sebagai opsi lain dalam memilih kitab lanjutan dalam pembelajaran qowa’id nahwiyyah.

Kitab Syarh Qothrun Nada wa Ballus Shoda merupakan Syarah (penjelasan) untuk matan Qothrun Nada wa Ballus Shoda yang berisi pembahsan-pembahasan seputar qowa’id nahwiyyah (tata bahasa Arab).  Keduanya, baik Syarah maupun matan adalah karya dari penulis yang sama yaitu Ibnu Hisyam Al-Anshori. Dalam matan Qothrun Nada penulis membahas tata bahasa arab level lanjutan secara ringkas namun menyeluruh. Penulis memulai bahasannya dengan pembahsan unsur terkecil dalam bahasa yaitu kata, lalu beranjak membahas kalimat, kemudian berpindah membahas I’rob dan Bina yang dimana inilah inti dari pelajaran tata bahasa, kemudian penulis mengakhiri pembahasannya dengan pembahasan Waqof. Namun tentu saja  karena yang disebut matan itu sangatlah ringkas sehingga kalimat-kalimatnya lebih sulit dipahami, maka untuk memhaminya membutuhkan penjelasan, oleh karna itu penulis membuat Syarah (penjelasan) bagi matan Qothrun Nada. Dalam syarahnya, penulis memperjelas bahasan-bahasan yang beliau sampaikan di matan, semisal memberi contoh, menjelaskan contoh, menyebutkan syahid (dalil bahasa) dari Al-Qur’an dan perkataan-perkataan orang Arab.

Kelebihan kitab Syarah Qothrun Nada adalah ringkas, meskipun tergolong kitab syarah, namun terbilang cukup ringkas, berbeda dengan kitab-kitab syarah lain yang membahas seputar qowaid nahwiyyah, sebut saja semisal Syarah Al-Ajurrumiyah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin, begitupun dengan Syarah Mutammimah Al-Jurrumiyah karangan Syaikh Ahmad bin Tsabit Al-Wushobi yang berjudul Ad-Durroh Al-Bahiyyah, atau Syarah Mutammimah Al-Ajurrumiyah lainnya yaitu Al-Kawakib Ad-Durriyah buah tangan Syaikh Al-Ahdal, atau Syarah Qothrun Nada milik Syaikh Abdullah Al-Fauzan, keempat kitab Syarah ini lumayan tebal sehingga akan menyita banyak waktu dalam membacanya, berbeda dengan Syarh Qothrunnada yang ditulis Ibnu Hisyam, meskipun tergolong kitab Syarah, namun syarah dari Ibnu Hisyam begitu ringkas sehingga untuk menuntaskan buku ini tidak terlalu menyita banyak waktu dan tentunya meskipun ringkas, Ibnu Hisyam tidak meninggalkan atau membuang pembahasan yang diperlukan bagi pelajar yang sudah masuk pembelajaran qowa’id nahwiyyah level menengah, sehingga pembaca kitab ini akan tetap mendapatkan materi yang menyeluruh dan berbobot disamping waktu yang singkat. Kekurangan isi buku tersebut adalah penulis kadang tidak menjelaskan I’rob dan makna yang menyeluruh dari syawahid yang diutarakan, penulis cenderung tertuju langsung pada mahallus syahid dari syawahid yang disampaikan, sehingga mengabaikan kata-kata lainnya yang tentu saja dibutuhkan bagi para pembelajar.

 

Tentu saja kitab Syarah Qothrun Nada ini sangat layak dibaca untuk para pembelajar qowa’id nahwiyyah level lanjutan atau menengah, apalagi bagi mahasiswa jurusan bahasa Arab, mengingat pembahasannya yang menyeluruh yang pasti dibutuhkan para pembelajar dalam membangun keilmuannya. Namun disamping itu mengingat ringkasnya kitab ini,  pembelajar membutuhkan guru yang harus membimbingnya dalam mempelajari kitab ini sehingga materi-materi yang berbobot dan sangat dibutuhkan benar-benar bisa dipahami dan dimanfaatkan.