Memahami Sastra Sebagai Seni Dalam Kehidupan

Posted on
Judul Buku Teori dan Sejarah Sastra Indonesia
Penulis Drs. Widjoko, M.Pd.
Drs. Endang Hidayat, M.Pd.
Jumlah Halaman 208 Halaman dan vi
Tahun Terbit 2006
Cetakan Ke Kesatu
Penerbit UPI PRESS
ISBN  –

Oleh: Nurul Furqon (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Semester 2 Tahun 2020)

Sastra secara bahasa berasal dari bahasa sangsakerta yang berarti “teks yang mengandung intruksi” atau “pedoman”. Karya sastra ditinjau dari segi penciptaanya merupakan pengalaman batin dari penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam  suatu kurun waktu dan kebudayaan tertentu. Kata sastra yang berarti pustaka atau tulisan sejajar dengan kata-kata sastra, Kitab, schriftum, literatur, dan litterature.

Nurul Furqon - buku Teori dan Sejarah Sastra Indonesia
Resensi buku Teori dan Sejarah Sastra Indonesia oleh Nurul Furqon

Sementara itu dalam pengertian lain kata sastra yang berarti karya kreatif sejajar dengan kata-kata sastra, adab, dichtung, letterkunde, belles lettres. Karya sastra yang dibahas disini adalah karya sastra yang berarti karya kreatif manusia.

Seni  sastra  (sastra  sebagai  karya  seni)  merupakan  proses  kreatif  seniman  berupa  ekspresi  pengalaman  jiwanya  mengenai kehidupan  manusia  dengan  media  tertentu  menjadi  karya  seni.  Melalui  media  bahasa yang  estetik  (indah)  seniman  dapat  menciptakan  seni  sastra  berupa karya  sastra  seperti novel,  puisi,  cerpe,  drama,  dan lain sebagainya.  Seniman  yang  menciptakan  karya  sastra/seni  biasa  disebut denganpengarang/penyair. Keindahan dari seni sastra dibangun oleh seni kata. Seni kata adalah penjelmaan dari pengalaman jiwa yang diekspresikan ke dalam keindahan kata. Seni sastra bersifat imajinatif, walaupun seni sastra bersifat imajinatif, namun seni sastra ini bermula dari kenyataan hidup yang obyektif. Dia berangkat dari kejadian kejadian dalam  kehidupan nyata yang dapat dihayati, dirasakan dan dimengerti.

Pada karya sastra, faktor-faktor yang berasal dari kejadian- kejadian dalam  kehidupan yang diangkat itu menjadi fiksi atau imajinatif. Meskipun karya sastra menggunakan bahan-bahan dari kenyataan obyektif (realita yang hidup di masyarakat), kenyataan imajinatif dalam karya sastra tidak identik lagi dengan kenyataan obyektif tadi. Hal ini dikarenakan fakta-fakta dan kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat tersebut ditanggapi, dihayati, dan didaptasi  sedemikian rupa oleh imajinasi pengarang, sehingga kita jumpai dalam karya sastra adalah tokoh-tokoh, keadaan atau peristiwa fiksi atau bersifat imajinatif.

Karya sastra yang berisi pemikiran-pemikiran, gagasan-gagasan, kisah dan amanat penutur dapat berkomunikasi dengan penikmat sastra apabila pembaca mampu mengapresiasinya dengan baik. Untuk dapat mengapresiasi sastra dengan baik penikmat tentulah harus ada rasa cinta, terhadap karya sastra. Hal ini dapat dipupuk dengan menumbuhkan dan mengebangkan minat untuk mengenal dan menghayati secara intensif karya sastra itu. Upaya mengapresiasi (mengenal dan menghayati) karya sastra dapat ditempuh dengan menumbuhkan dan mengembangkan minat baca, atau pun mendengarkan pembacaan karya sastra. Selain itu penikmat sastra harus memiliki cita rasa seni yang tajam dan halus, mempunyai pengetahuan dan wawasan sastra yang cukup luas, misalnya mengetahui latar belakang penulis atau latar belakang budaya yang melekat pada karya sastra tersebu, seperti contohnya kita tidak akan bisa memahami cerita “Si Kabayan” tanpa mengetahui kebudayaan sunda. Dengan mengapresiasi karya sastra penikmat dapat memperoleh manfaat dari karya sastra.

Di Indonesia sendiri Sastra berkembang melalui cerita rakyat dan mitos-mios seperti mantra  yang berkembang di masyarakat melalui mulut ke mulut , seperti misalnya adanya cerita legenda gunung Tangkuban Perahu, cerita Si Kabayan, Cerita malin Kundang dan cerita lainnya. Cerita-cerita tersbut seing digunakan sebagai dongen kepada anak anak sampaisaat ini sebagai hiburan. Dan eiring berjalannya waktu Sastra terus berkembang samapai saat ini.