Belajar Ilmu Shorof Bersama Kitab Syarah Kailani

Posted on
Judul buku :  Kitab Syarah Kailani
Penulis :  Syeikh Abu Al-Hasan Ali bin Hisyam
Penerbit :  Maktabah Imaratullah, Surabaya
Ketebalan :  36 Halaman
Harga :  Rp10.000
Ukuran :  27 x 18,5 cm
Penerjemah :  –
ISBN :  –

Oleh: Candra Pauzi Ikhsan (Mahasiswa BSA Semester 2 Tahun 2020)

Candra Pauzi Ikhsan - Syarah Kailani
Resensi Syarah Kailani oleh Candra Pauzi Ikhsan

Buku atau kitab ini sangat penting bagi mahasiswa ataupun santri yang baru belajar ilmu shorof. Selain itu kitab ini juga mengulas perubahan bentuk kata (morfologi) dalam Bahasa arab yang ditulis secara sistematis dan dalam kitab ini juga mengembangkan uraian dengan memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan tema pembahasannya.

Ilmu mantiq menjauhkan kita dari kesalahan akal dalam berpikir, sedangkan ilmu gramatika, menjauhkan kita dari kesalahan lisan dalam berucap. Lisan yang salah ucapannya maka maknanya akan menyimpang juga. Maka dari itu berhati-hatilah dalam berpikir, karena akan mempengaruhi ucapan. Hati-hatilah Ketika berucap atau berkata-kata karena dapat mempengaruhi arti dan maknanya.

Kailani adalah syarah atau ulasan dari Kitab Matan Tashrif Al-‘Izzy sebagai salah kitab ilmu shorof. Kitab ini sangat membantu pemula dalam mempelajari ilmu shorof. Secara garis besar kitab atau buku ini mengulas empat pasal, yaitu: amtsilah min tashrif hadzihil af’al, mudo’af, mu’tal, mahmuz, dan bina isim zaman wa makan.

Sebelum membahas empat pasal tersebut, penulis akan mengulas terlebih dahulu definisi Tashrif secara etimologi dan terminology, klasifikasi fi’il, dan wazan fi’il, Agar kita tahu bahwa ruang lingkup ilmu shorof itu hanya sebatas fi’il bukan isim ataupun juga huruf. Sehingga pembahasannya seputar Fi’il saja, karena hanya fi’il lah yang selaras dengan definisi tashrif atau shorof.

Penulis menjelaskan bahwa dalam ranah ilmu shorof, fi’il terbagi menjadi Tsuasi dan Ruba’I, mujarrad dan mazid, salim dan ghoiru salim. Jumlah seluruhnya ada delapan, disertai dengan definisinya masing-masing. Mengulas wazan dan mauzun memang bukanlah tujuanya, tapi fi’il tidak akan terlepas dari keduanya. Jika tidak mengerti wazan dan mauzun, maka akan sulit memahami ulasan selanjutnya dalam kitab Al-Kailani ini.

Wazan berarti timbangan atau pola, sedangkan mauzun berarti yang ditimbang (terpola). Dari wazan, kita bisa mengetahui pola sebuah kata Bahasa Arab yang memiliki makna berbeda-beda. Makna kata bisa berbeda karena polanya juga berbeda. Namun penulis tidak mengulas makna dari pola tersebut satu persatu.

Bab pertama sesuai dengan nama pasalnya. Di dalamnya terdapat contoh-contoh perubahan suatu kata, dinamakan dengan tashrif istilahi dan tashrif lughowi atau yang biasa kita kenal dengan sebutan “Nashrif” atau “Ngiyas”. Dimulai dengan fi’il madli karena berada dalam urutan pertama dalam tashrif, dan seterusnya sampai fi’il nahi.

Berlanjut pada bab kedua, Pasal fi’il mudlari’ sangat kompleks daripada yang lainnya, karena banyak huruf yang sering disandingkan dengan fi’il mudlari’, seperti awamil jawazim, awamil nawasib, dan sebagainya yang dapat mempengaruhi makna. Penyebab lainnya, karena bentuk lain seperti fi’il amar, nahy, isim fa’il, dan isim maf’ul berasal dari fi’il mudlari’ yang disertai dengan sedikit perubahan.

Materi pada bab ketiga yaitu pasal Mudo’af, Penulis kitab Kailani mengulas tidak hanya cotohnya saja, tetapi juga disertai dengan pengertian menurut etimologi dan terminology, pembagiannya, seluk beluk sebuah kata, perubahannya seperti apa, dan alasannya kenapa.

Kebanyakan orang yang belajar ilmu shorof pasti merasa kesulitan dalam memahami pasal Mu’tal, yang diulas pada pasal berikutnya. Mengapa? Karena di dalamnya terdapat perubahan yang sulit diprediksi. Seperti harus meng-I’lal terlebih dahulu. Meng-I’lal ada tiga acara; hadzfun (membuang), qalb (mengganti huruf), dan naql (memindahkan harkat).

Dilihat dari definisinya, dalam fi’il mu’tal harus terdapat salah satu huruf illat (alif, wau, dan Ya’), dan letaknya tidak ditentukan. Sehingga fi’il mu’tal berdasarkan letaknya, terbagi menjadi delapan.

Bagi lidah orang Indonesia, mengucapkan huruf illat mungkin tidak ada masalah, tapi bagi orang Arab sebagai pemilik bahasanya sendiri, justru terasa sulit. Terlebih Ketika huruf illat tersebut dihadapkan dengan huruf-huruf yang dianggap sulit bagi orang Arab. Sehingga digantilah dengan satu langkah, dua langkah, atau bahkan ketiganya, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Penjelasan soal ini cukup lengkap dalam kitab Kailani.

Tingkat kesulitan memahami pasal atau bab Mahmuz dalam kitab Kailani, ada di bawah pasal Mu’tal, mengingat pasal sebelumnya yang telah dibahas oleh penulis secara legkap. Ada kesamaan teori dengan pasal sebelumnya (mu’tal). Pembaca hanya tinggal mengulang dan mengingat-ingat kembali. Adapun hukum fi’il mahmuz ini seperti fi’il shahih, karena hamzah adalah huruf shahih.

Selain dengan mengucapkan hamzah pada awal kata, kebanyakan dengan cara di buang atau dengan menggantikannya dengan huruf yang lain, karena mengucapkan hamzah di tengah atau di akhir kata, dirasa berat menurut orang Arab.

Selanjutnya, pasal terakhir Kailani yang hanya terdiri dari 1 lembar. Itu artinya kesulitan pembaca tidak perlu dikhawatirkan, karena sedikit teori dalam pembahasan isim zaman dan isim makan dari dari fi’il shahih, mu’tal, mudhoaf dan mahmuz. Sebelum tanbih (pengingat), ada pembahasan dari Penulis Kailani mengenai isim alat.

Segala sesuatu pasti ada alasannya, demikian pula dengan saya memilih kitab ini untuk diresensi. Secara kasatmata, kitab ini pembahasannya tipis, padat, dan ringkas, tetapi mudah dipahami, mudah di dapat dapn harganya sangat terjangkau. Selain itu, ada kelebihan lain setelah di analisis, yaitu:

  1. Menggunakan Bahasa yang sederhana, sehingga cocok bagi pemula.
  2. Disertai alasan yang logis.
  3. Setiap kaidah atau teori, disertai dengan contoh.
  4. Disertai dengan alasan munculnya sebuah kaidah atau teori.
  5. Menjadi kitab rujukan adanya karya lain yang menggunakan bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Seperti buku karya dosen yang disertai dengan mind map, sehingga mudah dipahami oleh mahasiswanya.
  6. Disertai dengan tanbih (pengingat). Salah satu alasannya, dianggap mudah, sehingga terkadang beberapa hal sering terlupakan. Seperti pada paragraf terakhir, sebelum pasal pertama dan terakhir.
  7. Disertai dengan tambahan yang berhubungan dengan dunia tashrif, seperti yang terdapat pada pasal terakhir yang membahas tentang Mahmuz. Penulis mencantumkan bahwa Ketika ada dua hamzah yang berkumpul, maka hamzah urutan kedua digantikan dengan huruf yang sesuai dengan harkat yang sebelumnya. Contoh: ايمان – اإمان

            Beberapa hal yang bisa dibilang menjadi kekurangan pada Kitab Kailani ini diantaranya adalah:

  1. Pembahasannya merambat, namun masih dalam satu pasal. Seperti membahas tentang isim alat dalam pasal isim zaman wa makan.
  2. Sulit Ketika mencari dalil atau teori, karena berbentuk Natsar (Prosa)
  3. Tidak disertai daftar isi, sehingga membutuhkan waktu untuk mencari pembahasan yang di inginkan.
  4. Tidak ada muqaddimah (kata pengantar atau pendahuluan) sehingga kita tidak mengetahui alasan penulis memberi syarah (ulasan) pada kitab Tashrif Al-‘Izzy.
  5. Tidak dicantumkan biodata penulis, sehingga kita tidak bisa mengenal lebih jauh sosok Penulis dari kitab ini.
  6. Sebanyak tujuh dari sepuluh orang hasil survei yang saya lakukan, lebih memilih nadzam dalam mempelajari ilmu alat (Nahwu dan Shorof) dengan alasan beragam, salah satu alasannya adalah supaya mudah dihapal dengan cara memasukannya ke dalam nada lagu. Sehingga dapat mengurangi stres karena diasumsikan sebagai ilmu yang sulit dipelajari.

Teori tanpa praktik akan percuma dan sia-sia, sebaliknya praktik tanpa teori rasanya akan hampa. Kuncinya sering dilatih dan dipraktikan, maka lambat laun lidah akan lihai dan tidak kaku. Seperti kata pepatah “bisa karena terbiasa”.

Begitupun dalam mempelajari kitab kailani ini, butuh terbiasa agar bisa, seperti yang dilakukan para Santri di setiap Pesantrennya. Mereka mempelajari ilmu alat secara terus menerus. Setiap habis subuh dan ashar, biasanya kegiatan ini disebut “talaran” (menashrif lughawi dan istilahi, dan lain-lain).

Sasaran pembaca dari kitab ini adalah masyarakat akademik. Dimana kitab ini sangat cocok bagi para mahasiswa yang belajar tentang Bahasa sastra arab, pastilah kitab ini dapat dijadikan rujukan juga untuk bahan pelajaran. Dan juga para santri yang mengaji tentang bahasa arab di pesantren tempatnya mengaji, kitab ini pasti dijadikan rujukan juga oleh para Ustadz karena kitab ini memuat informasi tentang ilmu shorof.