Metode Pintar Terjemah Qur’an dan Kitab Kuning

Posted on

Judul buku

Tamyiz

Penulis

Abaza, MM

Penerbit

Tamyiz Publishing

Tahun Terbit

2011

Cetakan

Kedua, Oktober 2011

Tebal

190 Halaman

ISBN

978-602-98327-0-9

Oleh Fatihah Nurul Hadiah (Mahasiswa BSA Semester 2 Tahun 2020)

Buku Tamyiz, Metode Pintar Terjemah Qur’an dan Kitab Kuning oleh Fatihah Nurul Hadiah
Resensi Buku Buku Tamyiz, oleh Fatihah Nurul Hadiah

Buku ini pernah saya pelajari sebelumnya saat mondok di Pondok Pesantren Al-Qur’an Cijantung Ciamis sehingga saya paham betul isi dari buku ini. Selain itu, buku ini juga berperan sebagai alternatif bagi saya dalam bidang keahlian Bahasa dan Sastra Arab untuk memahami kaidah tata bahasa Arab yang ringkas sehingga mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, diharapkan resensi ini mendapatkan hasil yang memuaskan dan bermanfaat bagi pembaca sehingga tertarik juga untuk membaca dan mempelajari buku ini.

 

Abaza adalah pimpinan Pondok Pesantren Bayt Tamyiz, Indramayu. Beliau mendirikan pondok pesantren tersebut dengan alasan keprihatinannya terhadap mayoritas umat Islam yang dapat membaca Al-Qur’an, namun tidak dapat memahami isinya. Beliau mengibaratkan orang tersebut seperti orang buta warna melihat lampu lalu lintas. Apabila orang tidak dapat membedakan warnanya, maka kondisi jalanan akan menjadi kacau. Oleh karena itu, tidak hanya membacanya saja. Akan tetapi, perlu memahaminya sebab Al-Qur’an diciptakan untuk menjadi petunjuk bagi setiap manusia.

 

Berdasarkan permasalahan tersebut, muncul ide untuk menciptakan suatu metode terjemah Al-Qur’an dan Kitab Kuning. Tak hanya itu, beliau juga terinspirasi dari cerita sahabatnya sepulang dari Mesir yaitu MS. Kaban mengenai Imam Syafi’i yang berhasil menghafal Al-Qur’an pada usianya 10 tahun. Mendengar hal tersebut, membuat Abaza kagum terhadap Imam Syafi’i sehingga beliau mengajak MS. Kaban berdiskusi untuk melakukan penelitian dan menciptakan metode pembelajaran bagi anak-anak Indonesia agar mampu memahami makna dalam Al-Qur’an dan Kitab Kuning.

 

Setelah berdiskusi, munculah suatu metode pintar terjemah Al-Qur’an dan Kitab Kuning yang diberi nama Tamyiz. Penulis mengambil nama Tamyiz dari nama gurunya yaitu K. Anas Tamyiz. K. Anas Tamyiz adalah putra ketiga K. Tamyiz (Sepupu dari K. Mahrus Lirboyo). Beliau merupakan santri K. Syatori (Pesantren Arjawinangun Cirebon) dan K. Harun (Pesantren Kempek Cirebon). Dari gurunya ini, penulis mendapatkan inspirasi tambahan untuk memuat urutan pembelajaran nahwu sharaf dari huruf hingga kalimat dalam metode Tamyiz.

 

Mengingat pola pembelajaran bahasa Indonesia berbeda dengan pola pembelajaran bahasa Arab, maka perlu adanya spesifikasi untuk memudahkan dalam memahaminya. Pada konsep pembelajaran bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kalimat terdiri atas susunan kata. Kata terdiri atas susunan suku kata dan suku kata terdiri atas susunan huruf. Sedangkan dalam konsep pembelajaran bahasa Arab yang mahsyur dalam kitab nahwu dan sharaf, pembelajaran dilakukan dari level kalimat. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka lahirlah buku ini yang memiliki peran dan fungsi dalam mengolaborasikan keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan mudah untuk dipahami. Sebab dalam buku ini memuat pola pembelajaran bahasa Indonesia dalam memahami bahasa Arab yaitu dimulai dari tingkat huruf, suku kata, kata, kemudian kalimat.

 

Selain itu, kendala yang dihadapi selama ini dalam memahami bahasa Arab adalah sulitnya memformulasikan teori nahwu-shorof dengan cara mempelajarinya yang mudah, karena nahwu-shorof terlanjur dipersepsikan sebagai pelajaran yang sulit. Kendala tersebut diantaranya harus belajar membaca, memahami, dan menghafal matan atau nadzom yang terdapat dalam kitab nahwu-shorof serta harus mengaplikasikan teori tersebut pada Kitab Kuning yang lain. Karena kendala itulah maka di butuhkan waktu bertahun-tahun bagi santri untuk dapat membaca Kitab Kuning. Dengan buku Tamyiz, kendala itu bisa teratasi. Sebab buku ini menghadirkan formulasi nahwu-shorof yang ringkas sehingga mudah untuk dipahami bagi pembaca.

 

Menurut penguji buku Tamyiz. DR. KH. Akhsin Sakho Muhammad al-Hafidz yang kini menjadi Rektor Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Jakarta dan Sekretaris Lajnah Pentashhih Al-Qur’an Kementrian Agama RI, buku Tamyiz ini merupakan  formulasi teori nahwu-shorof Quantum dengan cara pembelajaran yang mudah dan menyenangkan. Buku ini  mampu membuat santri dan siapa pun yang bisa membaca Al-Qur’an, menjadi pintar membaca, menguraikan struktur kata sekaligus menerjemahkan Al-Qur’an dan Kitab Kuning dalam waktu kurang lebih 100 jam belajar atau tidak perlu bertahun-tahun untuk bisa membaca Kitab Kuning.

Buku tamyiz ini sama halnya dengan nahwu-shorof pada umumnya, hanya tersaji secara ringkas dan jelas. Buku ini memiliki 3 pokok pembahasan mengenai tata bahasa Arab. Pertama, buku ini membahas tentang huruf, isim, fi’il, dan mujarrod. Pada bagian huruf, penulis membagi menjadi 26 kolom huruf seperti huruf jar, ‘athof, istitsna, dll. Setiap huruf tersebut disertai terjemahannya agar memudahkan untuk dipahami. Kemudian isim, fi’il dan mujarrod tersaji dalam aspek ciri- dan tasrifnya masing-masing sehingga mudah untuk membedakannya.

 

Kedua, buku ini membahas tentang i’rob dan jumlah. Penulis mendefinisikan i’rob itu sendiri dengan harakat akhir dari isim dan mudhari’. Sebab penulis membuktikan hal tersebut dalam pembahasan selanjutnya yaitu ‘awamil (huruf-huruf yang dapat merubah i’rob isim dan mudhari’). Keduanya sangat berkesinambungan sehingga mudah bagi pembaca dalam memahaminya. Selanjutnya jumlah (kalimat), penulis membaginya menjadi 3 bagian yaitu syibh jumlah, jumlah fi’liyyah dan jumlah ibtidaiyyah. Penulis mendefinisikan syibh jumlah adalah gabungan dua kata baik itu berupa jer majrur, dzorof madzruf, idhofah, dll. Kemudian jumlah fi’liyyah merupakan jumlah yang diawali fi’il. Biasanya jumlah ini diiringi oleh fa’il ataupun maf’ul. Terakhir, jumlah ibtidaiyyah adalah jumlah yang diawali mubtada. Jumlah ini memiliki 2 model yaitu mubtada khobar dan khobar muqoddam mubtada muakkhor. Setiap model memiliki klasifikasinya masing-masing sehingga mudah  untuk mengidentifikasinya.

 

Ketiga, buku ini menyajikan kamus bahasa Arab yang sangat mudah untuk dihafal. Sebab dalam buku ini memuat mufradat-mufradat bahasa Arab yang sering diulang dalam Al-Qur’an mulai dari huruf, isim dan fi’il yang tersusun rapi dari abjad alif (ا  ( sampai ya (ي). Selain itu, buku ini juga disertai latihan untuk mempraktekan metode yang sudah dipelajari berupa ayat Al-Qur’an atau Kitab Kuning yang tidak diberi harakat (arab gundul) untuk menarqib dan menerjemahkannya.

 

Buku tamyiz ini memiliki kelebihan dan kekurangan seperti buku yang lain pada umumnya. Kelebihannya adalah buku ini dimuat dengan sangat ringkas dan jelas. Penggunaan kalimatnya sangat sederhana karena kalimat tersebut berfungsi sebagai pola dalam menarqib ayat Al-Qur’an dan Kitab Kuning. Penulis memberi istilah tersebut sebagai kata-kata ajaib (mantra) yang berisi formulasi nahwu-shorof yang ringkas dan masih dalam kaidah nahwu-shorof yang baku. Dengan adanya mantra ini, pembaca dapat menerapkannya pada latihan yang sudah disediakan dalam buku ini sehingga mudah dalam membaca, menguraikan struktur kata sekaligus menerjemahkan ayat Al-Qur’an dan Kitab Kuning karena didukung pula kamus sederhana yang memuat mufrodat-mufrodat bahasa Arab yang sering diulang dalam Al-Qur’an dan Kitab Kuning.

 

Adapun pada bagian kamus ini memiliki keunikan tersendiri karena pembaca tak hanya membaca dengan hati atau bersuara saja. Pembaca dapat membacanya sambil bernyanyi dengan mengimprovisasi mufradat-mufradat bahasa Arab dalam sebuah lagu sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan mudah untuk dihafal. Sedangkan kekurangannya adalah buku ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pembimbing dalam memahaminya. Sebab buku ini memuat sebuah metode, otomatis harus ada  pembimbing dalam mengajarkan buku ini agar pembaca tidak kebingungan ketika mempelajarinya dan mendapatkan hasil yang memuaskan.

 

Buku Tamyiz ini, dimaksudkan untuk menjadi sebuah “metode” yang dapat digunakan untuk mengajari anak kecil usia SD/MI dan yang pernah kecil tentunya (siapa saja yang sudah bisa membaca Al-Qur’an) sehingga mereka dapat membaca, menerjemahkan dan mengajarkan Al-Qur’an dan Kitab Kuning sebagaimana Imam Syafi’i waktu kecil. Penulis berharap dengan buku ini dapat mencetak “Imam-Imam Syafi’i kecil” yang pandai terjemah Al-Qur’an dan Kitab Kuning di negara muslim terbesar di dunia ini. Hal ini terbukti mengalami kemajuan dengan adanya respon masyarakat yang memuaskan sehingga buku Tamyiz telah menjadi muatan lokal di SD hingga SMA se-Indramayu. Dengan kemajuan tersebut, penulis juga berharap agar dapat disosialisasikan lagi di kalangan pesantren, sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan Perguruan Tinggi di Indonesia.

 

Buku ini sangat berkaitan dengan prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA). Sebab buku ini memuat formulasi nahwu-shorof yang ringkas sehingga memudahkan bagi kita untuk memahami kaidah bahasa Arab dalam waktu yang singkat (tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun). Oleh karena itu, buku ini bisa dijadikan sebagai alternatif di prodi Bahasa dan Sastra Arab. Mengingat motto dalam buku ini yaitu “Anak kecil saja bisa, yang pernah kecil pun pasti bisa” otomatis di kalangan Mahasiswa pasti akan lebih mudah untuk dipahami khususnya dalam bidang keahlian Bahasa dan Sastra Arab.