Perkembangan Sastra Arab pada Masa Umayyah & Abasiyyah

Posted on

Judul buku : Sastra dan Masyarakat Arab Zaman Umayyah-Abbasiyah

Penulis : Fauzan Muslim

Penerbit : penaku

Cetakan : Kesatu; April 2016

Ketebalan : 277 halaman

Harga : Rp. 65.000

Ukuran : 14 x 20 cm

ISBN : 978-602-7605-13-8

Oleh : Rina Sakina (Mahasiswa Bahasa & Sastra Arab Semester 2 Tahun 2020)

Fauzan Muslim adalah seorang Doktor Ilmu Susastra dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB IU), yang memperoleh gelar Doktornya pada tahun 2009. Sejak 1987, beliau menjadi pengajar tetap di Program Studi Arab FIB UI dan program Pascasarjana FIB UI. Selain mengajar, beliau juga menulis berbagai artikel tentang Bahasa, sastra, dan budaya Arab. Jenis artikel yang pernah beliau tulis seperti dalam Jurnal Arabia antara lain, “Kata Jihad dan Makna Konotasinya” (2005), “Puisi Imam Syafi’I” (2006), “Sastra Arab Zaman Abbasiyah.” (2007), dan lain sebagainya. Ada juga buku yang pernah beliau tulis, salah satunya, “Cerita Anak dari Negara-negara Arab”.

Rina Sakina - BSA UIN Bandung
Resensi buku oleh Rina Sakina

Buku ini secara khusus menelisik sastra dan masyarakat Arab zaman Umayyah dan zaman Abbasiyah. Analisis yang menukik kedalaman politik, masyarakat, dan sastranya. Buku ini mampu mengaitkan antara politik, masyarakat, dan sastra pada masa tersebut. Oleh karena itu, informasi dan temuan yang disajikanya mengisi ruang kosong buku acuan sastra Arab berbahasa Indonesia.

Sebagaimana bangsa -bangsa lain di dunia, bangsa Arab memiliki sejarah panjang, yang ditandai dengan peristiwa-peristiwa penting yang dicatat oleh sejarawan. Periode paling awal dalam sejarah kebudayaan Arab, disebut zaman jahiliyah (sekitar satu setengah abad sebelum islam), kemudian periode selanjutnya berturut-turut, disebut zaman permulaan islam (sejak kedatangan islam sampai berakhirnya zaman Khulafaur al-Rasyidin : tahun 40 H), zaman umayyah (622-750 M/ tahun 40-132 H), zaman abbasiyah (750-1258 M/ 132-656 H), zaman kemunduran (1258- 1798 M), zaman kebangkitan (abad ke-19-20 M), hingga zaman modern (abad ke-13 sampai sekarang).

Zaman Umayyah dan Abbasiyah merupakan masa kejayaan peradaban Islam yang berkembang dan menyebar ke Negara-negara Arab di Asia Barat hingga ke benua Afrika dan Eropa. Pada zaman Umayyah sastra dan masyarakat Arab Islam mengalami kemajuan dan mencapai puncak kejayaan pada zaman Abbasiyah. Pada periode zaman Abbasiyah pemerintahan Islam berhasil menguasai wilayah yang cukup luas, seperti Suriah dan Spanyol di wilayah Utara; Irak, Iran, dan Pakistan di wilayah timur; serta Mesir, Sudan, Libya di wilayah barat atau di benua Afrika. Meluasnya kekuasaan Islam mewarnai khazanah kesusastraan Arab, karena pada dasarnya perkembangan sastra Arab didukung oleh para penguasanya yang ikut mendorong aktivitas para sastrawan. Di zaman ini pula kita mengenal penya’ir sufi (Rabi’ah Al-Adawiyah dan Ibnu Ata’illah), penya’ir hikmah dan ahli fikih (Imam Syafi’i), dan penya’ir beragam tema (Abu Nuwas).

Buku ini terdiri dari beberapa bab, dan kita juga dapat mengetahui bahwa sastra memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan budaya, dan masyarakat.

Pada Bab I, dipaparkan periodisasi sastra Arab yang berkaitan erat dengan periode kepemimpinan kekhalifahan Arab, yaitu periode Umayyah dan Abbasiyah. Kedua periode itu ada kaitanya dengan periode sebelumnya, yaitu periode jahiliyah dan periode zaman permulaan islam. Pada periode zaman jahiliyah, khazanah kesusastraan Arab telah berkembang pesat sesuai konteks zamanya. Seorang penya’ir pada zaman jahiliyah dapat mengangkat nama baik suatu kabilah dan menjatuhkan wibawa kabilah lain yang menjadi pesaingnya. Seorang penya’ir juga dapat menciptakan perdamaian di antara dua kabilah yang berseteru. Pada periode itu dikenal jenis puisi al-Mu’allaqat, yaitu puisi-puisi pilihan yang digantungkan di dinding ka’bah. Puisi-puisi ini merupakan hasil seleksi dari sejumlah karya para penya’ir yang dibacakan pada peristiwa pasar ukkaz, yang berlangsung setiap bulan setiap tahun di kota Mekkah.

Kedudukan sastrawan dalam masyarakat Arab sepanjang sejarah dianggap sangat penting. Karena, puisi yang dalam sastra Arab disebut Syi’ir merupakan alat komunikasi yang sangat berperan, baik di masa damai maupun di masa peperangan. Bangsa Arab sangat menghargai sastrawan. Aktivitas ini menunjukan bahwa kegiatan sastra, bahkan kritik sastra, sudah ada jauh sebelum islam lahir di tanah Arab.

Pada zaman Islam masyarakat Arab berubah. Aktivitas para sastrawan pun berubah. Kebiasaan buruk para sastrawan pada zaman jahiliyah ditinggalkan. Aktivitas memuji, menghina, dan terkadang memprovokasi suatu kabilah hingga memicu konflik pada zaman Islam beralih ke arah da’wah Islam. Islam membawa perdamaian antar kabilah yang bermusuhan. Kaum muslimin Arab Bersatu menghadapi kaum kafir yang memusuhi Islam. Aktivitas para penya’ir muslim adalah membantu penyiaran da’wah Islam, membela ajaran Islam dari gangguan dan hinaan para penya’ir non-muslim. Dilihat dari kuantitasnya, penulisan sastra pada zaman Islam menurun. Para penya’ir lebih hati-hati dalam menghasilkan puisi karena Islam memberi batasan moral spiritual dalam hal aktivitas sastra. Sastra yang dikehendaki Islam adalah sastra yang mengajak kepada kebaikan, perdamaian, dan keshalehan; bukan pada perpecahan, keburukan, memuji, dan menghina tanpa batas.

Pada Bab ke-II, menggambarkan kehidupan masyarakat Arab pada zaman umayyah, dimana pada zaman ini perpecahan antar masyarakat Arab muncul kembali. Bukan sekedar disebabkan oleh faktor kabilah, melainkan karena kepentingan kelompok. Muncul kelompok-kelompok keagamaan dan politik yang berbeda dengan kelompok penguasa Mu’awiyah. Munculnya kelompok-kelompok Islam yang berselisih. Dalam hal ini, partai politik pemerintahan umayyah paling banyak memiliki penya’ir, diikuti kelompok penya’ir syi’ah dan khawarij, sedangkan partai zubairiyyin paling sedikit memiliki penya’ir. Pada masa itu keberadaan sastrawan pun terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok tersebut, seperti penya’ir syi’ah dengan karya-karyanya yang melankolis, penuh ratapan, pujian, dan nonstalgia akibat dibatasi ruang geraknya oleh kekuatan penguasa Mu’awiyah. Dari zaman umayyah ada tiga penya’ir terkenal yaitu, Farazdaq, al-Akhtal, dan Jarir, yang selalu tampil dalam polemik sastra. Adapula penya’ir yang tidak tertarik pada masalah politik, melainkan lebih terfokus pada masalah pribadi, terutama tentang pengalaman cintanya kepada seorang kekasih. Warisan penya’ir seperti itu terlihat dalam Layla Majnun karya Qays bin Mulawwah. Tentunya kita pernah mendengar bukan kisah Layla Majnun itu, sangat populer bahkan sempat di tayangkan ke dalam industri perfilman.

Pada Bab ke-III, menggambarkan kehidupan masyarakat Arab pada zaman Abbasiyah, yang merupakan masyarakat plural. Apa yang disebut sebagai sastra Arab sebenarnya tidak lagi dimaknai secara sempit karena para sastrawan tidak lagi didominasi oleh orang Arab, melainkan oleh sastrawan-sastrawan non-Arab, seperti Persia, Andalusia (Spanyol), dan Turki. Hanya bahasa yang memberi identitas tetap sebagai Sastra Arab.

Secara umum kehidupan masyarakat Abbasiyah lebih makmur di banding zaman-zaman sebelumnya. Para pejabat Abbasiyah pada umumnya sangat menghargai hasil karya para sastrawan. Mereka juga menyukai ilmu pengetahuan. Mereka berlomba memberi hadiah besar kepada penya’ir yang memujinya. Para sastrawan pun berlomba menulis puisi dan mencari penghidupan di sisi khalifah dan pejabat. Pada zaman Abbasiyah para sastrawan dan kaum terpelajar memiliki kesempatan luas untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum dan filsafat Yunani. Hal ini pun memperluas wawasan yang lebih luas itu daya khayal dan kreativitas mereka pun semakin hidup dan beragam. Para sastrawan tidak lagi didominasi bangsa Arab, melainkan juga bangsa Persia, Turki, dan bahkan Spanyol (Andalusia). Semuanya memperlihatkan adanya perluasan wawasan para sastrawan, yang diakibatkan oleh perluasan wilayah kekuasaan Islam dan percampuran budaya.

Jenis dan tema karya sastra pun menjadi lebih beragam, tidak terbatas pada tema-tema klasik, pesan moral spiritual, politik, atau pujian dan ejekan saja, melainkan lebih luas lagi, menyangkut segi kehidupan nyata, seperti karya-karya untuk tujuan hiburan, humor, dan bahkan karya yang mengandung nilai-nilai filosofis. Muncul karya yang bertema Asabiyah, dari sastrawan Mawali (keturunan campuran Arab Persia) yang membanggakan nenek moyangnya dan melecehkan keturunan Arab. Karya seperti ini terlihat dalam penya’ir Basysyar Ibn Bur dan Ibn Muqaffa. Muncul pula karya-karya yang bergaya humor, seperti dalam al-Hayawan dan al-Bakhir karya al-Jahiz. Adapula karya yang mendeskripsikan cinta sesama jenis seperti puisi-puisi Husaein al-Dahhak. Selain itu muncul karya-karya yang dipengaruhi oleh filsafat seperti dalam puisi Abu Tammam dan al-Mutannabi. Warna filsafat terlihat pula dalam kisah Hayy bin Yaqzan yang ditulis oleh Ibn Tufayl, seorang sastrawan dari Andalusia. Ada pula cerita yang menampilkan masalah eskatologi yang menggambarkan dalam akhirat seperti terlihat dalam Risalah al-Gufran karya al-Ma-‘arri, seorang sastrawan asal Suriah.

Pada zaman Abbasiyah, banyak sekali sastrawan terkenal bahkan sampai sekarang karya-karyanya pun banyak dilantunkan. Salah satunya karya Abu Nuwas yang menulis puisinya di kala usia tua. Puisinya mengandung tema tobat, meminta ampunan kepada Tuhan atas dosa-dosanya yang telah dilakukan sepanjang hidupnya. Dalam puisi itu ia tidak mengharapkan surga, tidak pula sanggup untuk masuk neraka. Yang ia minta adalah ampunan dari Tuhan. Berikut Syi’iranya :

إلهى لست للفردوس أهلا * ولا أقوى على النار الجحيم

فهب لي توبة واغفر ذنوبي * فإنك غافر الذنب العظيم

ذنوب مثل أعداد الرمال * فهب لي توبة ياذا الجلال

وعمري ناقص في كل يوم * وذنوب زائد كيف احتمالي

إلهي عبدك العاصي أتاك * مقرّا بالذنوب وقد دعاك

فإن تغفر فأنت لذالك أهل * فإن تطرد فمن نرجو سواك

Puisi di atas merupakan do’a Abu Nuwas kepada Tuhan, “Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tetapi aku tidak kuat dalam neraka jahim (1); Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku; sesungguhnya engkau maha pengampun dosa yang besar (2); Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat Wahai Tuhanku yang memiliki keagungan (3); Umurku ini setiap hari berkurang, sedangkan dosaku selalu bertambah, bagaikan aku menanggungnya (4); Wahai Tuhanku! Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan telah memohon kepada-Mu (5); Maka jika engkau mengampuni itu memang layak mengampuni, jika engkau menolak, kepada siapa lagi aku berharap (6).

Ada juga penya’ir bernama Rabi’ah Al-Adawiyah. Siapa yang tak kenal sosok wanita yang zuhud dan terkenal akan kesufianya. Bahkan di usia tuanya, ia menghindari kemewahan dunia, tidak menikah, dan mencurahkan seluruh umurnya untuk beribadah mendekatkan diri  kepada Allah. Hari-harinya digunakan untuk berpuasa dan malam-malamnya ia gunakan untuk  salat. Ia menyatakan curahan cintanya hanya kepada Tuhan. Berikut contoh puisi cintanya.

أحبك حبين : حب الهوى * وحبا لأنك أهل لذا كا

فأما الذى هو حب الهوى * فشغلي بذكرك عمن سواكا

و أما الذى أنت أهل له * فكشفك لي الحجب حتى أراكا

فما الحمد في ذا ولا ذاك لي * ولكن لك الحمد فى ذا وذاك

Dalam puisi di atas Rabi’ah mengungkapkan bahwa cinta tanya ada dua, yaitu cinta nafsu dan cinta karena Tuhan memang patut dicintai (1); cinta nafsu Rabi’ah kepada Tuhan akan melupakan dirinya kepada selain Tuhan (2); cinta yang dilandasi kepatutan bahwa Tuhan patut dicintai akan dapat membuka tabir yang membuat Rabi’ah dapat langsung melihat Tuhan (3); pujian bukan untuk Rabi’ah dan rasa cintanya, melainkan semua pujian pada keduanya hanya untuk Tuhan (4).

Akhir dari masa Abbasiyah ini bermula, Setelah kota Baghdad dihancurkan oleh pasukan Hulagu Khan pada tahun 1258 M, kekhalifahan Abbasiyah tidak lagi dapat dipertahankan. Sejak itu kepemimpinan Islam terpecah-pecah menjadi penguasa-penguasa lokal sesuai dengan wilayahnya. Sejak itu pula eksistensi kesustraan Arab tidak lagi dapat dikatakan sebagai kesusastraan Abbasiyah, melainkan lebih bersifat kewilayahan atau kenegaraan.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa ada kaitan yang sangat erat antara sastra, sastrawan, dan masyarakatnya. Sastra dan masyarakat saling berpengaruh satu sama lain. Ketiga hal ini didukung pula oleh peran para pemimpin yang berkuasa pada kedua zamanya.

Kelebihan dari buku ini bisa dibilang menarik, karena buku sastra ini disajikan begitu padat dan lengkap, dimulai dari tulisan sya’irnya dan kisah para sastrawanya, sampai cerita-cerita kesastraan masyarakat terdahulu, khususnya zaman Umayyah dan zaman Abbasiyah. Adanya sastra sekarang, karena orang-orang terdahulu-lah yang membuat karya-karya sastra yang indah sehingga sampai sekarang kita bisa melihat hasil karyanya dan menikmatinya. Tentunya, hal ini memberikan motivasi kepada kita untuk terus berkarya dan mengembangkan kreativitas dengan berkaca akan hasil karya para ulama terdahulu.

Kekurangan buku ini, meskipun judulnya seolah-olah memberi kesan bahwa buku ini bisa dimengerti dalam sekali pemahaman, tapi sebenarnya tidak semudah itu. Buku ini merupakan buku sastra, yang dimana didalamnya menelisik sastra dan masyarakat Arab zaman umayyah-abbasiyah, dan perlu analisa lebih lanjut tentang apa yang dibaca. Seperti, banyaknya sya’ir yang dicantumkan bertulisan Arab, namun tidak memakai harakat. Perlu diperhatikan pula, bahwa tidak semua orang bisa membaca tulisan Arab tanpa harakat, karena tentunya perlu pemahaman lebih dalam tentang ilmu dasarnya, yaitu ilmu nahwu-sharaf.

Sasaran buku ini, umumnya penting bagi siapapun yang ingin mengenal, memahami, dan mendalami sastra Arab, terutama pada kedua zaman Umayyah dan Abbasiyah. Tetapi, karena buku ini kebanyakan membahas tentang kesastraan, maka buku ini baik dikonsumsi oleh mahasiswa jurusan sejarah keislaman maupun sastra Arab.