Resensi Novel Maha Cinta Laila Majnun

Posted on
  • Judul: Maha Cinta Laila Majnun
  • Penerbit : OASE buku
  • Penulis : Syaikh Nizami Ganjavi
  • Tahun Terbit : Juli 2013
  • Jumlah Halaman : 252
  • ISBN : 978-979-1167-83-3

Oleh Aisyah Alief Dzulfiqrah (Mahasiswa BSA Semester 2 Tahun 2020)

Novel ini sangat fenomenal dalam pembahasannya tentang cinta tanpa ada sedikitpun terjadi kontak fisik maupun umbaran kata-kata cinta murahan di antara mereka berdua. Novel ini juga telah di nobatkan sebagai novel All Time Best Seller, sehingga sangat menarik untuk Saya bahas dan tidak ragu dengan jalan cerita yang tertulis dalam novel ini.

Aisyah Alief Dzulfiqrah - BSA UIN Bandung
Resensi novel oleh Aisyah Alief Dzulfiqrah

Sampai saat ini buku bertemakan cinta ini masih sangat  fenomenal dan banyak di baca oleh segala kalangan masyarakat. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari buku ini tentang pembahasan dan ketulusan cinta seseorang terhadap pasangannya. Kisah ini dapat sangat mengusik jiwa terhadap siapa pun yang membacanya, Cinta sendiri dapat hadir kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja, semua orang tidak dapat menahan akan kehadiran cinta itu sendiri, oleh karna itu terkadang cinta datang tanpa alasan yang jelas dan pasti.

Seperti halnya buku ini yang menceritakan bagaimana perjuangan seseorang terhadap pasangan yang ia cintai. Buku Laila dan Majnun merupakan kisah cinta tragis yang sangat terkenal di negara-negara timur tengah dan menjadi kisah yang di ceritakan secara turun menurun selama ratusan tahun lamanya.

Nizami Ganjavani, beliau adalah seorang penyair Persia yang mendapatkan tugas untuk menceritakan serta menyebarkan kisah ini dari mulut ke mulut dan di tulis menjadi karya sastra yang luar biasa. Shirvanshah merupakan penguasa Kaukasia pada tahun 1188 Masehi ia yang memerintah Nizami untuk menyebarkan ceita ini. Awalnya Nizam sempat menolaknya, tetapi pada akhirnya dia berkenan menulis kisah ini hingga saat ini kita dapat membacanya.

Awal mula kisah ini terjadi di tanah arab. Di sana ada seorang lelaki muda bernama Qays. Suatu hari, ketika ia sedang mengenyam pendidikan di suatu sekolah agama, ia bertemu seorang gadis bernama Laila. Dan pada detik itu juga ia jatuh cinta pada gadis tersebut. Qays yang tergila-gila pada Laila terus-menurus menulis puisi yang memuja dan mengagungkan sosok menawan gadis tersebut. Ia tak segan membacakan puisi tersebut di sudut-sudut jalan. Tak peduli pada orang lain yang mengatai dan mengacuhkannya.

Laila sendiri merupakan seorang gadis yang cantik, terlahir dari keluarga yang terpandang dan kaya raya. Keluarganya tentu mengharapkan Laila dapat dipersunting oleh lelaki dengan kedudukan yang setara dengan keluarganya, sehingga ia bisa hidup dalam gelimang harta dan kekayaan. Namun, cinta yang dimiliki Laila adalah cinta suci yang hanya akan di persembahahkan kepada lelaki yang sungguh-sumgguh ia cinta. Dan ia telah menemukannya di dalam diri Qays.

Dalam kisah ini kita dihadapkan pada perjuangan yang tidak hanya menembus harga diri, status sosial, tetapi juga mengorbankan darah dan nyawa dari orang-orang yang berpihak. Kita di hadapkan pula pada penderitaan yang timbul oleh cinta yang penuh halangan, bukan hanya pada orang mencintai tetapi orang yang dicintainya juga merasakan penderitaan ini.

Kisah Laila Majnun merupakan kisah cinta Majnun terhadap Laila semta-mata adalah kecintaanya terhadap Tuhan. Majnun benar-benar menghilangkan egonya hingga sampai pada tingkatan peniadaan diri. Sehingga ia tidak memandang dirinya dan kekasihnya sebagai suatu yang terpisah melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh. Dengan kata lain, kisah ini adalah alegori dari perjalanan sufi untuk sampai kepada Tuhan.

“…….Aku tidak pernah memilih jalan yang aku tempuh, aku telah di lemparkan ke dalamnya. Aku terbelenggu dan terikat oleh rantai baja, tapi bukan aku yang mengikatkan belenggu itu. Aku menjadi budak cinta karena suratan takdirlah yang menjadikan ku seperti itu. Rantai yang telah diikatkan oleh takdir tidak bisa di buka lagi. Aku tidak dapat lepas dari belenggu ini, aku tidak dapat melepaskan beban penderitaanku kecuali takdir sendiri yang melepaskannya….”(hlm.59)

Di dalam buku ini kita akan mengetahui bagaimana arti cinta ketulusan serta mengetahui bagaimana seseorang memperjuangkan apa yang ia inginkan. Di sini pun banyak syair-syair yang dapat membuat orang yang membaca terpana dan kagum akan keindahan syairnya. Meskipun bagi para pembaca yang awam akan karya sastra seperti ini, mungkin akan banyak sekali kosa kata yang sedikit membuat mereka bingung untuk mencernanya, karna novel ini memakai penggunaan bahasa yang tinggi.

Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja, terutama untuk kaum pecinta dan penggemar sastra klasik. Sesuai konsep nya yang inspirasional, novel ini memberikan kita banyak inspirasi, pesan dan kesan yang dapat mengalir hingga ke lubuk hati dan pikiran. Bahasa yang tertuang dalam novel ini mengandung Bahasa yang sublime dan Bahasa yang estetis sehingga menghasilkan katarsis untuk para pembacanya, layak dijadikan bacaan para penggiat sastra, termasuk mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab sekalipun.