Berkenalan dengan Sastrawan Arab Modern

Posted on
Judul : Sastrawan Arab Modern
Penulis : Bahrudin Achmad
Penerbit : Guepedia Publisher
Cetakan : Pertama, 24 Januari 2019
Harga Toko : Rp.94.000
Harga Google Books : Rp.63.450,00
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 252 halaman
ISBN : 978-602-6236-73-9

Oleh: Alyassa Wijaya Kusumah (Mahasiswa BSA Semester 2 Tahun 2020)

Alyassa Wijaya Kusumah - BSA UIN Bandung
Resensi buku oleh Alyassa Wijaya Kusumah

Buku yang berjudul Sastrawan Arab Modern bisa dikatakan buku yang langka karena hanya sedikit sekali buku yang membahas tentang sastrawan Arab Modern dalam lintas sejarah kesusastraan Arab sehingga saya memilih buku ini untuk diresensi. Sebagai pecinta sastra Arab yang hidup di era Modern selazimnya saya perlu mempelajari kesusastraan Arab Modern. Selain itu, pembahasan kesusastraan Arab biasanya hanya bisa dipahami oleh mahasiswa semester akhir atau oleh pascasarjana. Padahal mahasiswa-mahasiswa semester awal yang terjun di dunia kesusastraan seperti saya pun perlu memahami hal ini maka saya memilih buku ini.

Secara garis besar dalam buku ini digambarkan perbandingan antara sastrawan Arab Modern dan Klasik begitupun sejarahnya, karya-karyanya, dan biografi mereka. Namun, sebelum memulai pembahasan sastrawan Arab Modern dalam bab 1 penulis buku terlebih dahulu memberikan pengertian-pengertian seputar adab atau sastra Arab juga periodesasi kesusastraan Arab sebagai jembatan untuk pembahasan selanjutnya.

Setelah itu, di bab ke-2 barulah penulis memulai pembahasannya tentang sastrawan Arab Modern dengan pembahasan kebangkitan kesusastraan Arab Modern, diantaranya disebabkan oleh ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798 M. Napoleon dan rombongannya telah memperkenalkan budaya Perancis dan ilmu pengetahuan Barat kepada penduduk Mesir kemudian kepada bangsa Arab di berbagai negara sehingga terjadi pergeseran besar, baik secara kultural maupun politis.

Disamping itu, adanya perhatian besar dari Muhammad Ali Pasha (w. 1949) terhadap kebudayaan di Mesir. Dia mengirimkan beberapa pelajar ke Eropa, khususnya Perancis dan Inggris untuk belajar di beberapa universitas. Sepulangnya dari Eropa mereka mengajarkan ilmu-ilmu Barat dengan kata pengantar bahasa Arab. Akibatnya, karya-karya para sastrawan Arab Modern telah banyak yang dipengaruhi oleh gaya sastra barat, terutama gaya sastra Prancis dan Inggris.

Dalam buku ini digambarkan perbedaan-perbedaan antara sastrawan Arab Modern dan Klasik, diantaranya para sastrawan Arab Modern sudah banyak yang tidak terikat lagi pada gaya lama dan lebih suka menggunakan gaya bebas, tetapi masih banyak juga yang bertahan dengan gaya lama kendati tidak terikat pada persyaratan tertentu, seperti penyair Mahmud Ali Taha (w. 1949). Selain itu, ada pula yang menulis karya-karyanya dengan gaya semi-klasik dan semi-modern, seperti Mustafa Lutfi Al-Manfaluti (w. 1924). Para sastrawan Arab Modern pun berhasil melahirkan genre sastra Arab baru dibanding sastrawan Arab Klasik, seperti novel, cerpen, esai, dan drama.

Bukan hanya perbedaan antara sastrawan Arab Modern dan Klasik. Namun, dalam buku ini juga tercantum perbedaan antara sesama sastrawan Arab Modern. Misalnya dalam hal prosa para sastrawan Arab Modern tidak berjalan pada satu garis, melainkan berjalan pada dua kecenderungan. Ada yang cenderung berpegang teguh pada kebudayaan Arab dan Islam yang asli dengan mengambil manfaat dari kebudayaan Barat, seperti Mistafa Shadiq Ar-Rafi’i (w. 1937). Ada pula yang cenderung sama sekali menjauhkan diri dari pengaruh kebudayaan Barat, seperti Ahmad Amin (w. 1954).

Di tengah-tengah pembahasan tentang perbedaan antara sastrawan Arab Modern dan Klasik juga disajikan persamaan antara sastrawan Arab Modern dan Klasik. Diantaranya, jumlah sastrawan wanita masih sedikit dan taraf karya sastrawan wanita masih jarang yang melampaui karya-karya sastrawan pria baik dalam penguasaan perkataan puisi maupun dalam hal kemasyhuran. Persamaan lainnya adalah karya-karya sastrawqn Arab baik Klasik maupun Modern tidak terlepas dari penggambaran situasi dan budaya yang sedang berlaku pada zaman masing-masing.

Sebagai penutup, di bab ke-3 disajikan biografi 22 sastrawan Arab Modern berikut pemikiran dan contoh karyanya, baik dari kalangan muslim ataupun non-muslim, seperti Kahlil Gibran, baik sastrawan Arab pria ataupun wanita, seperti Salma Khadra Al-Jayyusi. Biografi 22 sastrawan Arab Modern tersebut dimulai dari biografi Mahmud Sami Al-Barudi dan berakhir di biografi  Samirah Binti Al-Jazirah Al-‘Arabiyyah.

Kelebihan yang peresensi temukan dalam buku ini, diantaranya:

  1. Meskipun baru setahun diterbitkan, tetapi buku ini bisa diandalkan untuk referensi seputar sastrawan Arab Modern.
  2. Membahas seputar sastrawan Arab Modern yang jarang dibahas di buku lain.
  3. Menggunakan bahasa yang sederhana sehingga masih bisa diterima dikalangan non-akademis.

Setiap buah tangan manusia pasti ada kekurangannya. Tidak terkecuali pada buku ini ada beberapa kekurangan yang peresensi temukan, diantaranya:

  1. Masih susah ditemukan, baik di toko-toko buku maupun di toko online.
  2. Spesifikasi pembahasan belum begitu mengerucut di pembahasan sastrawan arab modern.
  3. Contoh karya para sastrawan arab modern hanya ditulis terjemahanya tanpa menulis tulisan Arabnya.

Sasaran pembaca buku ini adalah masyarakat akademis. Buku ini sangat cocok untuk mahasiswa yang memilih prodi Sastra Arab, baik mahasiswa semester awal ataupun mahasiswa semester akhir dan bisa membantu mereka dalam mengenal sastrawan Arab Modern yang seharusnya mereka ketahui. Selain itu, buku ini bisa dijadikan bahan bacaan oleh dosen ataupun peneliti bahasa dan sastra Arab karena sangat berkaitan dengan kesusastraan Arab.