Iduladha dan Linguistik

Posted on

Oleh : Asep Supianudin*

Dr. Asep Supianudin, M.Ag tentang idul adha dan linguistik
Dr. Asep Supianudin, M.Ag

Judul tulisan ini mengandung dua unsur utama, yaitu iduladha dan linguistik. Dua unsur ini sengaja diperhadapkan untuk dicarikan penjelasannya secara teoritis. Kata iduladha dipilih karena berkenaan dengan saat tulisan ini dibuat bertepatan dengan hari raya iduladha, 10 Zulhijah 1441 H./31 Juli 2020. Dan kata linguistik juga dipilih berkenaan dengan upaya menggali penjelasan iduladha secara linguistik. Selain itu, adanya motivasi untuk menjelaskan iduladha secara linguistik adalah karena penjelasan iduladha sering didominasi dengan penjelasan teologi dan fikih. Atau, yang sering terjadi juga adanya penjelasan iduladha secara bahasa Arab semata.

 

Iduladha merupakan suatu istilah yang berkenaan dengan tanggal 10 Zulhijah. Istilah ini dikenal sebagai hari raya yang berisikan acara ritual dan seremonial. Dalam istilah lainnya berisikan acara ibadah yang sarat makna dan pelajaran substansial.  Sebagai upaya memanfaatkan kesempatan iduladha ini bukan hanya untuk acara rutinitas ritual semata, disajikanlah upaya mencari penjelasan linguistik atas iduladha dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Linguistik mencakup mikro dan makro. Linguistik mikro dimaksudkan adalah suatu kajian bahasa yang membatasi diri pada unsur-unsur inti bahasa, yaitu bunyi, kata, kalimat dan makna. Sementara linguistik makro adalah suatu kajian yang menghubungkan antara unsur-unsur inti bahasa dengan unsur-unsur luar bahasa. Salah satu ilmu yang terwujud atas dasar kajian bahasa dan luar bahasa adalah sosiolinguistik. Namun, pada tulisan ini kedua kajian  tidak digunakan sebagai pendekatan secara rinci dan komprehensif, hanya sebagian saja yang disesuaikan dengan upaya membatasi intensitas tulisan ini.

 

Dalam kerangka ini, Iduladha menjadi unik dan menarik ketiak ditinjau dari linguistik, dan ini akan memperkaya wawasan tentang iduladha secara bahasa dan secara social bahasa.

 

Sisi Linguistik Iduladha

Untuk lebih tertata dengan baik, kita coba petakan dulu tentang istilah iduladha ini pada bahasa asal dan bahasa penyerapnya. Istilah iduladha berasal dari bahasa Arab, yaitu عيد الأضحى  yang kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia yang tulisannya menjadi iduladha (lihat KBBI daring). Dalam bahasa asalnya (bahasa Arab), istilah iduladha merupakan gabungan dua kata yaitu عيد dan  أضحى . secara hafiah dua kata ini mempunyai arti masing-masing. Kata  عيد mempunyai arti ‘kembali” dan kata أضحى  mempunyai arti binatang yang disembelih pada ritual ibadah tanggal 10 Zulhijah dan hari tasyrik. Namun secara istilah dua kata ini memunculkan makna baru yaitu suatu hari yang dikategorikan sebagai hari raya dalam keberagaman umat Islam. 

 

Istilah iduladha kemudian menjadi bagian dalam bahasa Indonesia karena kepentingan sebagian penduduk Indonesia untuk menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada suatu referensi yang tidak bisa tergantikan dengan bahasa lainnya dalam bahasa Indonesia.  Maka kemudian istilah ini masuk kedalam tata aturan gramatika bahasa Indonesia, dan akhirnya terwujudlah menjadi bagian dalam kosakata bahasa Indonesia dengan tulisan iduladha, terwujud dalam satu kata, berbeda dengan bahasa asalnya yang terwujud dalam dua kata. Kata ini telah menjadi bagian dalam kamus besar bahasa Indonesia, dan dalam kamus ini kata ini diartikan dengan “hari raya haji yang disertai dengan penyembelihan hewan kurban (spt sapi, kambing, atau unta) bagi yang mampu”. Dalam kamus bahasa Indonesia ini, juga ada kata lainyya yang mempunia arti sama, yaitu kata idulkurban.

 

Secara sosiologis, baik sebagai kata ataupun sebagai istilah, kata iduladha telah menjadi  bahasa yang dikenal dan dipahami oleh para pemakainya, lebih khusus umat Islam di Indonesia. Paling tidak, kata ini menjadi sering digunakan pada saat bukan Zulhijah dengan agenda penyembelihan hewan kurbannya. Pada kesempatan, cukup banyak ungkapan-ungkapan suka cita dalam hari raya ini. Paling tidak, melalui media whatsapp ungkapan untuk selamat hari raya iduladha ini banyak disampaikan. Pada tataran lisan, pengucapan kata iduladha ini tidak begitu jelas perbedaannya antara pengucapan dari bahasa asalnya (bahasa Arab) dengan bahasa penyerapnya (bahasa Indonesia). Namun ketika kata ini digunakan dalam bahasa tulisan (teks) akan jelas terlihat perbedaannya, atau mungkin kekeliruannya. Kemungkinan muncul kekeliruan karena dilatarbelakangi oleh ketidakpatuhan terhadap tata aturan gramatika masing-masing bahasa. Dalam hal ini perlu dikemukakan terlebih dahulu bahwa ketika suatu kosa kata dari luar bahasa Indonesia kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia, maka kosa kata itu kemudian tunduk pada aturan ketatabahasaan bahasa Indonesia. Dengan ini, kata iduladha yang berasal dari bahasa Arab terdiri dari dua kata, dalam bahasa Indonesia menjadi satu kata dengan tulisan iduladha. Sehingga jika ada tulisan kata ini dengan idul adha (terdiri dari dua kata), ini tidak mengikuti aturan ketatabahasaan bahasa Indonesia. Dan jika ada bantahan bahwa itu mengacu kepada bahasa asalnya, maka solusi untuk hal ini adalah menuliskannya dengan menggunakan tata aturan transliterasi yang pada prinsipnya menuliskan bahasa asing yang ditempatkan pada teks bahasa Indonesia

 

Secara semantik, dari bahasa asalnya, istilah iduladha mempunyai keberhubungan makna dengan istilah-istilah lainnya, diantaranya dengan kata nahr dan żabaha. Kata nahr diwujudkan sebagai kata kerja perintah yang diletakkkan secara paralel dengan kata Salat pada Surat al-Kautsar. “maka laksanakanlah Salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (Q.S. Al-Kautsar/108:2). Secara harfiah, kata nahr  berarti menyembelih, mengalirkan darah hewan kurban. Dan kata perintah dalam Al-Quran memberi makna perintah melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Dikarenakan posisi perintah ini paralel dengan perintah melaksanakan Salat, maka muncullah potensi intensitas makna dari perintah menyembelih hewan kurban itu untuk menyamai statusnya perintahnya dengan perintah pelaksanaan Salat (wajib). Keadaan ini menggiring pandangan Imam Abu Hanifah untuk berpendapat bahwa hukum berkurban bagi yang memiliki kesanggupan pada iduladha itu wajib, karena paralel dengan kewajiban melaksanakan salat.  Walaupun kemudian pendapat ini dibantah oleh redaksi Hadis Nabi SAW: “ada tiga yang merupakan kewajiban bagiku, dan sunah bagi yang lain, yaitu: Salat witir, berkurban dan Salat duha” (HR. Ahmad, alh_hakim dan Ad-Daruqutni) juga dikuatkan dengan sejarah yang mencatatkan  bahwa Abu Bakar dan Umar ibn al-Khatab pernah tidak berkurban, karena khawatir orang-orang menilai wajib. 

 

Kata żabaha disajikan dalam teks Al-Quran diantara dengan bentuk  “ażbahuka” dalam konteks peribadahan dengan berkurban. Teks ini disajikan dalam Al-Qur’an sebagai transkripsi komunikasi Nabi Ibrahim AS dengan putranya, Nabi Ismail AS. “ażbahuka” merupakan struktur lengkap yang terdiri dari subjek, predikat dan objek. Jika kalimat ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih menjadi “aku akan menyembelihmu”. Dan ini menjadi momen awal atas munculnya perintah berkurban yang pertama kali. Dan ini diterima oleh Nabi Ibrahim AS melalui mimpi yang kemudian dikomunikasikan secara terbuka kepada putranya, Isamail AS. Bisa jadi, kalimat “ażbahuka “ ini dipergunakan sebagai “dialog kasih sayang” antara sang ayah dengan sang anak untuk menunjukkan keterbukaan dan keterusterangan Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah SWT.

*Asep Supianudin adalah ketua Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bandung, 10 Zulhijah 1441 H./31 Juli 2020 M.