Resensi Buku Resepsi Sastra, Sebuah Pengantar

Posted on

Judul Buku : Resepsi Sastra Sebuah Pengantar

Penulis  : Umar Junus

Desain Cover  : Purnama Sidhi

Ilustrasi Cover : Bambang Sriyono

Penerbit  : Bursa Ilmu

Tahun Terbit  : 1985

ISBN  : –

Cetakan Pertama : PT Gramedia, Jakarta

Jumlah Halaman  : 166 Halaman

Oleh: Nuraisah (nuraisahiim@gmail.com)

Umar Junus adalah seorang kritikus sastra Indonesia dan dosen. Umar Junus menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta pada tahun 1959 dengan spesialisasi linguistik dan antropologi, dan meraih gelar Doktor dari Universitas Malaya, Kuala Lumpur pada tahun 1983. Persiapan buku ini memakn waktu yang cukup panjang, beliau memulainya pada tahun 1982 dan diterbitkan pada tahun 1985. Dalam persiapan buku ini beliau dibantu oleh rekan-rekannya terutama Pamusuk Eneste dan G. L. Koster. Penamaan buku ini sebenarnya dari istilah Rezeptionaesthetik istilah ini juga diterjemahkan penulis dengan ‘estetika penerimaan’ demi mempermudah pembaca untuk memahami pembicaraan yang dituis penulis maka buku ini dinamai “Resepsi Sastra” mungkin banyak orang yang beranggapan istilah kurang baik, tapi penulis beranggapan istilah ini lebih baik saat dibicarakan oleh penulis.

Nuraisah BSA UIN Bandung
Resensi Buku Oleh Nuraisah

Alasan saya merensensi buku ini karena membantu saya dalam memahami sastra lebih mendalam. Baik itu dalam bidang sajak penulisan karya sastra, novel ataupun sebagainya. Buku ini pun tidak begitu berat bagi pemula yang baru mempelajari sastra itu seperti apa, buku yang tidak terlalu tebal akan menjadi sasaran utama bagi orang-orang yang males terlalu banyak yang harus dibaca namun penjelasan yang bertele-tele.

Resepsi sastra menurut Umar Junus adalah Bagaimana “pembaca” memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Tanggapan itu mungkin bersifat pasif. Yaitu bagaimana pembaca dapat memahami karya itu, atau dapat melihat hakikat estetika di dalamnya. Atau mungkin juga bersifat aktif, yaitu bagaimana ia merealisasikannya. Karena itu, pengertian resepsi sastra mempunyai lapangan yang luas dengan berbagai kemungkinan penggunaan.

Karya sastra adalah teks yang memungkinkan pembaca memahaminya secara beragam. Penulis menyebutnya dengan istilah ambiguous. Oleh karena itu, ada keinginan untuk mengetahui ‘arti sebenarnya’. Keinginan untuk mengetahui ‘arti’ ini menyebabkan pemahaman bahwa untuk memahami karya sastra maka dapat ditemukan melalui ‘penulis’nya. Dalam pandangan ini, berarti suatu karya sastra dapat ditemukan ‘arti’nya ketika pembaca bertanya langsung kepada ‘penulis’nya. Pandangan ini mungkin memang perlu untuk situasi tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan Andre Billaz (1983:22) yaitu : La perspective de la production est la voie royale, et  á la première en dignitè bahwa “penulis adalah seorang pujangga, filsuf, dan guru”. Penulislah yang paling mengetahui makna suatu teks. Namun, sampai pada suatu titik di saat penulis ‘tidak menyadari apa yang ditulisnya’.

Penulis menjelaskan pertumbuhan kesusastraan yang juga berhubungan dengan adanya penulis-penulis muda yang memerlukan pengakuan kehadirannya. Dan pengakuan ini didapat melalui seorang pengkritik yang memberikan kritik dan evaluasi. Dan pengkritik berada pada posisi “lebih tinggi” dari seorang penulis, lebih mengetahui dari sang penulis. Dulu ‘penulis’ dalam kedudukannya sebagai pujangga dianggap lebih memahami dari pembacanya, dan ia tidak meminta supaya diakui. Dan ‘penulis’ itu akan menjelaskan hal-hal yang samar menjadi jelas bagi ‘pembaca’. Berbeda dengan kini, apalagi dengan pengkritik yang dating dari dunia ilmu, bukan dari “pujangga” yang berubah menjadi pengkritik, pengkritik beranggapan lebih tahu dibanding ‘pembaca’ bahkan ‘penulis’nya.

Dalam buku ini resepsi sastra disandingkan dengan beberapa pendekatan mulai dari Semiotik, Sosiologi Sastra, Intertekstualitas sampai Dekonstruksionisme. Dalam pembahasan pendekatan diberi contoh dengan jelas berupa skema, seperti skema proses kongkretisasi. Buku ini menyadarkan pembaca bahwa pembicaraan kesusastraan tidak aka nada bila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti. Karya sastra pun tidak akan hadir bila tidak ada yang menciptakannya, dan yang menciptakannya itu lebih penting. Maka pembaca akan sadar bahwa kita selaku pencipta karya yang memberikan interpretasi, menyadari perlunya mengintegrasikan khalayak yang membaca karya seorang pencipta karya dalam usaha untuk memahami makna dari suatu teks.

Gambaran pada buku ini dijelaskan bagaimana kita dapat merangkai kata dengan baik. Gambaran ini penulis menambahkan pola-pola kalimat yang benar.  Agar si ‘pembaca’ dapat masuk dalam cerita atu pembicaraan yang dijelaskan seorang ‘penulis’ pada bukunya. Penulis memberitahu agar seorang ‘penulis’ harus mampu menghidupkan karyanya. Buku ini terlihat bagaimana pentingnya mempelajari resepsi sastra terutama dalam sejarahnya.

Kelebihan yang didapat dari buku ini diantaranya ialah pada setiap penjelasan sastra dibarengi dengan contoh seperti puisi atau karangan-karangan sastra, buku ini benar-benar membantu para pencipta karya sastra mulai dari mencari makna yang harus bisa diresapi oleh pembacanya itu sendiri, pencipta karya sastra harus bisa mentransform nilai pada karya sebelumnya ke dalam karya yang sedang ditulisnya. Skema yang digambarkan didalam buku sangat jelas. Penulisan buku yang sistematik membantu pembaca mudah dalam mencari kata kunci yang dicarinya, dan dengan kesistematikan buku ini membuat pembaca mudah memahami langkah demi langkah yang harus diraih oleh seorang pencipta sastra. Buku inipun menuliskan penjelasan beberapa problematik resepsi sastra dan studi, pembaca kita dan sastra kita, penerimaan karena kesalahpahaman.

Namun, dibalik kelebihannya, buku ini juga memiliki kekurangan dalam penulisannya. Sebagai contoh, skema pendekatan resepsi sastra dan semiotik dalam hubungan kode pada teks yang menggunakan sistem ‘arti kedua’ ada gambaran dengan gambar yang memiliki simbol skema matematika. Mungkin ini akan kurang dipahami oleh sebagian orang yang tidak begitu paham dengan matematika.

Buku ini ditulis dengan pembicaraan yang tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan, namun mampu dipahami pembaca. Buku yang dapat membingbing para sastrawan dalam memulai langkahnya sebagai sastrawan. Dapat memahami dari beberapa sudut pendekatan yang dirangkum secara jelas pada buku ini. Penjelasan dari beberapa ahli sastrawan dunia pun, dijelaskan penulis dengan jelas sesuai teori. Maka buku ini sungguh membantu dalam pembelajaraan berbagai sastra, mempermudah memahami apa itu sastra dan bagaimana kita dapat membungkus sastra menjadi hal yang begitu berharga, dan dikagumi khalayak orang banyak. Dan banyak pesan yang terkandung didalamnya sebagai penyemangat bagi orang-orang yang akan memulai langkah kehidupan bersastra. Kaitan buku ini dengan studi Bahasa dan Sastra Arab yaitu membantu mahasiswa dalam memahmi benar apa itu sastra, sejarah sastra, terutama dalam resepsi sastra. Teori yang dijelaskan membantu mahasiswa untuk mendalami studinya dalam bidang kesusastraan.

* Penulis adalah mahasiswi Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung Semester 2 Tahun 2020.