Belajar Tashawuf Melalui Ilmu Nahwu

Posted on
Judul buku NAHWUL QULUB TATA BAHASA QALBU
Penulis IMAM AL-QUSYAIRI
Ukuran 14 x 21 cm, 224 halaman
Cetakan Kesatu, Maret 2019
Penerjemah Kiai Supirso Pati
Penerbit Wali Pustaka
Terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah
ISBN 978-623-90042-2-4

Oleh: Lala Nabilah (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Semester 2 Tahun 2020)

Saya sangat tertarik dengan ilmu Nahwu, salah satu ilmu gramatika bahasa Arab yang saya sukai, ini membuat buku ini menjadi menarik untuk dibahas. Kedua, dilihat dari judul bukunya yaitu tata bahasa qalbu, dimana terdapat hubungan antara hati dan ilmu nahwu. Dan disisi lain karena saya mempunyai minat baca yang sedikit, namun saya ingin mengetahui nahwu secara mendalam, melalui buku ini. Dan dari situ saya ingin mencoba meresensi buku yang saya sukai ini.

Lala Nabilah BSA UIN Bandung
Resensi buku oleh Lala Nabilah

Imam Al-Qusyairi adalah seorang sufi sekaligus pakar ilmu tata bahasa Arab (Nahwu). Beliau dilahirkan pada bulan Rabiulawal tahun 376H/986M di Ustu, Naisabur. Beliau mulai mengenal tasawuf ketika beliau bertemu dengan seorang sufi Abu Ali Ad-Daqaq (W. 405H/1015M) yang kemudian menjadi guru spiritualnya.

Beliaupun menjadi seorang ulama yang aktif dalam menulis kitab. Diantara kitab-kitab termasyhurnya yaitu, Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, Lathaif Al-Isyarat, dan At-Tahbir fi Syarhi Asmaillah al-Husna. Imam Al-Qusyairi wafat dikota Naisabur pada tahun 465H/1072M. Dan dimakamkan disamping makam gurunya Abu Ali Ad-Daqaq.

Menurut Imam Al- Qusyairi “ nahwu adalah sebuah cara menuju suatu tujuan. Yaitu, mampu mengucapkan suatu kalimat dengan benar ( al-Qashdu ila shawab al-Kalam)”. Dalam kehidupan sehari-hari ketika kita hendak berbicara dengan orang yang lebih tua/lebih tinggi dari kita, pastinya kita menggunakan bahasa yang lebih sopan dan mudah dimengerti. Begitupun ketika  kita (seorang hamba) berdoa memohon kepada Sang Khaliq dia harus menggunakan bahasa yang baik, benar dan sopan. Tentunya kita harus memahami gramatika bahasa, kita harus paham bagaimana cara kita berkomunikasi dengan sesama hamba dan Allah SWT.

Buku ini diberi nama Nahwul Qulub (gramatika hati) yang isinya terbagi dua yaitu Nahwul Qulub Al-Kabir ( besar/luas) dan Nahwul Qulub as-Saghir (kecil/ringkas). Keduanya sama-sama menjelaskan urgensi dan manfaat dari isi kitab tentang bahasa sufistik. Dalam Nahwul Qulub Al-Kabir ini terdapat beberapa pasal yang menjelaskan gramatika tata bahasa Arab yang dikaitkan dengan tasawuf.

Pada pasal pertama, menjelaskan perbedaan nahwu dan nahwu qulub. Nahwu secara etimologi yaitu sebuah cara menuju suatu tujuan, artinya kita mampu mengucapkan kalimat dengan benar atau kalimat yang kita maksud. Sedangkan nahwu qulub adalah suatu cara agar bisa berkomunikasi dengan tuhannya dengan bahasa qalbu.

Pasal dua, menjelaskan tentang kalam. Kalam yaitu susunan kata yang terdiri dari isim, fi’il, huruf yang memiliki makna. Dalam nahwu qulub, isim disini yaitu Allah, fi’il yaitu segalasesuatu yang berasal dari Allah, dan huruf yaitu sesuatu yang khusus melekat pada isim. Pada nahwu konvensional ( nahwu secara umum ), jika huruf melekat dengan isim maka berlaku hukum nasab, jer bagi isim. Dan jika huruf melekat pada fi’il maka akan berlaku hukum nasab dan jazem bagi fi’il. Begitupun pada nahwul qulub, misalnya sifat ‘ilm (huruf) yang melekat pada Allah (isim) maka akan menetapkan sifat al-‘Alim bagi-Nya.

Pasal empat menjelaskan tentang kalam. Kalam itu terbagi menjadi dua yaitu, kalam mufid dan ghoiru mufid. Kalam mufid adalah kalam yang tersusun dari isism dan isim atau fi’il dan isim. Adapun selain susunan tersebut dikatakan ghoiru mufid. Dalam nahwu qulub kalam mufid itu kalam yang didengar dari Allah atau kalam yang digunakan untuk berbicara kepada Allah, Yaitu menunjukan zat Allah mengisyaratkan makna tentang sifat-Nya dan mengandung ungkapan yang bermakna tentang ciptaan-Nya. Sedangkan ghoiru mufid itu kalam yang bukan untuk Allah.

Pasal lima menjelaskan tentang I’rab dan mabni. Kalam terdapat dua bagian yaitu, mu’rab dan mabni.  I’rab adalah perubahan akhir kalimat yang disebabkan oleh ‘amil. Sedangkan bina’ itu yang tidak mengalami perubahan pada akhir kalimat. Dalam nahwu qulub kalimat ada dua. Pertama kata yang diajarkan oleh Allah (tawqif Al-Haqq), artinya apa yang kamu dengar (dari Allah) dengan hatimu lalu berhenti sampai disitu, tanpa ada aktivitas lain yang kamu lakukan. Intinya kamu tahu dan paham lalu kamu ikuti kata hatimu sesuai perintah Allah. Kedua, perkataan yang diucapkan oleh seorang hamba dengan seizin Allah (tashrif al-Khalad). Artinya, apa yang kamu ucapkan dalam munajatmu dengan Allah sesuai dengan isyarat yang simpel, yang kamu terima dari-Nya.

Pada pasal enam, tentang arti dari setiap i’rob. Dalam nahwu qulub, hati itu terbagi menjadi empat i’rob yang sama (li al-Qulub hadzihi al-Qosam). Rafa’ adalah tingginya himmah ( kekuatan sptiritual yang mendorong seseorang menempuh jalan tasawuf). Nashab adalah kesiapan jiwa dan raga seseorang untuk taat kepada Allah. Terkadang seorang hamba itu disiapkan oleh Allah untuk menerima segala ketetapan-Nya tanpa ada usaha. Orang-orang tidak memiliki hak atas dirinya, karena semua itu adalah hak Allah. Khafadh (jer) adalah kerendahan diri dan hati. Orangbseperti ini selalu memanggap dirinya dibawah, dia merasa hina, kotor baik didunia dan diakhirat. Jazm adalah terkuncinya hati dari segala sesuatu selain Allah (naudzubillahi min dzalik). Dan disini, kata jazm itu berarti memutus (qath) suatu hubungan. Artinya dia memutus segala hubungan hati dengan selain Allah, berarti terbebasnya hati dari segala hasrat keinginan yang itu bertentangan dengan hakikat.

 Pada bab-bab selanjutnya kita semakin menyelami ilmu tasawuf yang ada dalam ilmu nahwu ini. Kita diajak untuk lebih mengenali Tuhan. Mengenal perjalanan para salik dalam menuju Allah SWT.

Kelebihan dari buku ini adalah kita menjadi lebih tau pengaplikasian gramatika Bahasa Arab dalam Ilmu Tasawuf. Kita mengetahui makna dari setiap pasal yang ada dalam ilmu nahwu. Dan buku ini pun memiliki gaya penulisan dan gaya bahasa  yang sangat indah, sehingga bagi saya harus mengulangi membaca agar benar-benar paham. Dan yang lebih menarik dari buku inilah, pada terdapat teks bahasa arab yang bisa dijadikan sebagai latihan (membaca dan menterjemahkan) atau pengaplikasian terhadap ilmu Nahwu. Kekurangannya, mungkin agak sulit dipahami bagi pembaca yang samasekali belum mengenal ilmu Nahwu.

Sasaran pembaca pada umumnya bagi semua orang. Namun lebih condong kepada orang yang ingin mencoba untuk belajar dan mendalami ilmu nahwu, sekiranya dia bisa memahami tidak hanya ilmu nahwu saja, bonusnya dia menjadi lebih mengenal bagaimana cara mendekatkan diri kepada tuhannya. Terutama untuk para salik ( orang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya).

Buku ini sangat bermanfaat sekali khususnya bagi Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab (BSA) seperti saya ini. Karena sanagat membantu sekali untuk kita mengenal gramatika bahasa Arab dengan baik dan mendalam. Apalagi di BSA ini kita diharapkan untuk mampu menggunaka bahsa Arab dengan baik dan benar. Tidak hanya itu, dari buku ini juga kita dapat mengenal ilmu tasawuf dengan baik.